Tiga Tahun Menunggu, Perakit Robot Asal Bangkalan Ingin Kuliah
Berawal dari hobi membongkar televisi saat masih SD, Mohammad Hidayat atau Dayat berhasil menguasai dunia elektronika secara otodidak hingga mampu merakit robot dan berbagai perangkat berbasis mikrokontroler. Namun keterbatasan ekonomi membuat impiannya kuliah di jurusan Elektronika masih tertunda. Kini ia berharap ada bantuan beasiswa agar bisa mengembangkan bakat dan mewujudkan cita-citanya.
BANGKALAN – Di sebuah rumah sederhana di Kecamatan Geger, Kabupaten Bangkalan, lahir mimpi besar dari seorang pemuda bernama Mohammad HHidayat
Di tengah keterbatasan ekonomi yang membelenggu keluarganya, Dayat—sapaan akrabnya—tetap menyalakan harapan melalui kecintaan yang tak pernah padam terhadap dunia elektronika.
Bagi sebagian anak, bermain mungkin menjadi aktivitas yang paling menyenangkan. Namun berbeda dengan Dayat. Sejak masih duduk di bangku sekolah dasar, ia justru menghabiskan waktunya dengan membongkar berbagai perangkat elektronik untuk mengetahui bagaimana benda-benda itu bekerja.
Rasa penasaran itulah yang kemudian menjadi pintu masuk bagi lahirnya bakat yang kini membuat banyak orang kagum. Meski tanpa bimbingan khusus maupun pendidikan formal di bidang teknologi, Dayat belajar secara mandiri dari apa yang ada di sekelilingnya.
Orang tuanya, Delli, masih mengingat betul bagaimana putranya kerap membuatnya khawatir karena gemar mengutak-atik peralatan elektronik di rumah. Salah satu kejadian yang paling membekas adalah ketika televisi yang baru dibeli justru dibongkar oleh Dayat.
"Sejak SD dia suka mengutak-atik barang elektronik. Bahkan televisi yang baru kami beli pernah rusak karena dibongkar. Namun dari situ dia belajar sendiri dan akhirnya mampu memperbaikinya hanya dengan menggunakan obeng," kenang Delli.
Apa yang awalnya dianggap kenakalan anak kecil ternyata menjadi fondasi bagi kemampuan luar biasa yang dimiliki Dayat saat ini. Dari sekadar membongkar televisi, ia perlahan memahami rangkaian listrik, komponen elektronik, hingga cara kerja berbagai perangkat modern.
Ketekunan dan rasa ingin tahu yang tinggi membuat kemampuan Dayat berkembang pesat. Ia kini mampu memperbaiki berbagai peralatan elektronik rumah tangga, mulai dari televisi, lampu, kipas angin, hingga telepon genggam.
Tak berhenti di situ, pemuda tersebut juga mampu membuat berbagai alat elektronik rakitan seperti kompresor dan bel sekolah otomatis berbasis timer yang dapat digunakan untuk mendukung aktivitas pendidikan.
Yang lebih mengagumkan, Dayat juga memiliki kemampuan merancang robot sederhana, sensor elektronik, serta berbagai proyek berbasis mikrokontroler yang umumnya dipelajari di lingkungan pendidikan teknologi yang lebih maju.
Semua keterampilan tersebut diperolehnya secara otodidak. Buku, internet, video pembelajaran, dan praktik langsung menjadi guru yang menuntunnya memahami dunia teknologi selama bertahun-tahun.
Semangat belajar itu terus ia bawa hingga menempuh pendidikan di Madrasah Aliyah Roudlotut Tholibin Kombangan. Di sekolah tersebut, Dayat berhasil menyusun sebuah karya ilmiah berjudul "Bel Listrik Arduino Uno" yang dilengkapi dengan uji coba penerapan alat secara langsung.
Karya tersebut menjadi bukti bahwa kemampuan yang dimiliki Dayat bukan sekadar hobi biasa. Ia mampu mengubah rasa ingin tahunya menjadi inovasi yang memiliki manfaat nyata bagi lingkungan sekitar.
Namun di balik berbagai kemampuan yang dimiliki, Dayat harus menghadapi kenyataan yang tidak mudah. Keterbatasan ekonomi keluarga membuat langkahnya menuju bangku kuliah terhenti.
Sudah sekitar tiga tahun sejak ia menyelesaikan pendidikan di Madrasah Aliyah. Selama itu pula impiannya untuk melanjutkan studi di bidang elektronika harus tertunda karena keterbatasan biaya.
Padahal, baginya, kuliah bukan hanya tentang mendapatkan gelar akademik. Pendidikan tinggi adalah jalan untuk memperluas wawasan, meningkatkan kemampuan, dan mewujudkan mimpi menjadi inovator teknologi yang mampu memberikan manfaat lebih luas.
"Saya sangat ingin kuliah di jurusan Elektronika agar bisa mengembangkan kemampuan yang saya miliki. Semoga ada bantuan atau beasiswa dari Pemerintah Kabupaten Bangkalan maupun pihak-pihak yang peduli terhadap pendidikan sehingga saya dapat melanjutkan kuliah sampai lulus," ungkap Dayat penuh harap.
Kisah Dayat menjadi potret nyata bahwa kecerdasan dan bakat tidak selalu lahir dari fasilitas yang lengkap maupun kehidupan yang serba berkecukupan.
Di tengah segala keterbatasan, ia membuktikan bahwa semangat belajar, ketekunan, dan kemauan untuk terus berkembang mampu melahirkan prestasi yang luar biasa.
Pemuda desa ini telah menunjukkan bahwa teknologi bukan hanya milik mereka yang hidup di kota besar atau memiliki akses pendidikan yang mudah. Dengan tekad yang kuat, siapa pun dapat belajar dan menciptakan inovasi.
Kini, harapan besar tertuju kepada pemerintah daerah, lembaga pendidikan, dunia usaha, serta para dermawan untuk membuka jalan bagi talenta-talenta muda seperti Dayat.
Sebab di balik sederet rangkaian elektronik yang ia rakit sendiri, tersimpan mimpi besar yang menunggu kesempatan untuk tumbuh. Dan jika kesempatan itu datang, bukan tidak mungkin Dayat akan menjadi salah satu putra daerah Bangkalan yang mampu mengharumkan nama daerahnya melalui karya dan inovasi teknologi.
Penulis : Luhur Utomo
What's Your Reaction?