Muhari Kenalkan Metode CRAAP untuk Tingkatkan Literasi Digital Masyarakat Bangkalan

Founder Lingkar Satra, Muhari S.Pd mengenalkan metode CRAAP dalam Bimtek Literasi Informasi di Bangkalan sebagai langkah efektif menangkal hoaks dan meningkatkan literasi digital masyarakat di era media sosial.

May 8, 2026 - 20:23
 0
Muhari Kenalkan Metode CRAAP untuk Tingkatkan Literasi Digital Masyarakat Bangkalan

BANGKALAN – derasnya arus informasi di media sosial membuat masyarakat harus semakin cerdas dan selektif dalam menerima maupun menyebarkan sebuah berita.

Di tengah maraknya informasi yang belum tentu benar, kemampuan memilah informasi dinilai menjadi kebutuhan penting agar masyarakat tidak mudah terjebak hoaks, provokasi, maupun kabar menyesatkan.

Fenomena penyebaran informasi palsu di media sosial kini menjadi perhatian serius berbagai kalangan. Banyak pengguna internet langsung mempercayai bahkan membagikan informasi tanpa melakukan pengecekan terlebih dahulu. Kondisi tersebut berpotensi memicu keresahan hingga perpecahan di tengah masyarakat.

Founder Lingkar Satra, Muhari, S.Pd, menilai salah satu cara efektif menghadapi kondisi tersebut adalah dengan menerapkan metode CRAAP. Hal itu disampaikan saat dirinya menjadi pemateri dalam kegiatan Bimbingan Teknis (Bimtek) Literasi Informasi di Gedung Perpustakaan Kabupaten Bangkalan, Kamis (07/05/2026).

Dalam pemaparannya, Muhari menjelaskan bahwa metode CRAAP merupakan teknik sederhana yang dapat membantu masyarakat menilai kualitas dan kebenaran sebuah informasi sebelum mempercayai ataupun menyebarkannya kembali di media sosial.

CRAAP sendiri merupakan singkatan dari Currency, Relevance, Authority, Accuracy, dan Purpose. Lima unsur tersebut menjadi dasar penting dalam menilai apakah sebuah informasi layak dipercaya atau justru patut dicurigai.

Pada aspek Currency, masyarakat diminta memperhatikan waktu terbit sebuah informasi. Menurut Muhari, banyak berita lama yang kembali viral dan menimbulkan kesalahpahaman karena tidak lagi sesuai dengan kondisi terkini.

Sementara pada aspek Relevance, masyarakat diajak melihat apakah informasi tersebut benar-benar relevan dengan kebutuhan serta konteks pembahasan yang sedang terjadi. Tidak semua informasi yang viral memiliki keterkaitan langsung dengan situasi yang dihadapi masyarakat.

Kemudian pada unsur Authority, Muhari menekankan pentingnya memeriksa sumber informasi. Masyarakat harus memastikan berita berasal dari media terpercaya atau narasumber yang memiliki kredibilitas dan kompetensi yang jelas.

Selanjutnya adalah Accuracy, yakni memastikan informasi memiliki dasar data, fakta, maupun sumber pendukung yang valid. Informasi yang tidak memiliki bukti jelas, kata Muhari, patut diwaspadai karena berpotensi menjadi hoaks atau informasi manipulatif.

Sedangkan unsur Purpose mengajak masyarakat memahami tujuan sebuah informasi dibuat dan disebarkan. Sebab tidak semua informasi dibuat untuk edukasi. Ada pula yang bertujuan menggiring opini, promosi tertentu, hingga memancing provokasi di ruang publik.

“Metode CRAAP membantu masyarakat berpikir kritis sebelum mempercayai sebuah berita. Ini penting agar kita tidak mudah terpengaruh hoaks maupun informasi provokatif,” ujar Muhari yang dikenal aktif mengampanyekan pentingnya literasi digital di masyarakat.

Menurutnya, kemampuan berpikir kritis menjadi kunci utama dalam menghadapi derasnya arus informasi digital saat ini. Tanpa kemampuan tersebut, masyarakat rentan menjadi korban penyebaran berita palsu yang dapat memicu konflik sosial maupun keresahan publik.

Melalui kegiatan literasi informasi tersebut, masyarakat juga diimbau lebih bijak menggunakan media sosial dan tidak mudah terpancing judul sensasional yang belum tentu sesuai dengan isi maupun fakta sebenarnya.

Dengan meningkatnya pemahaman literasi digital, diharapkan masyarakat mampu menciptakan ruang media sosial yang lebih sehat, edukatif, serta bertanggung jawab sehingga penyebaran hoaks dapat diminimalkan.

Penulis : Luhur

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow