Kritik Tajam Jurnalis Senior Oryza Wirawan Disambut Terbuka dalam Dialog “Gus Bupati Menjawab”
KABAR RAKYAT, JEMBER - Forum dialog publik “Gus Bupati Menjawab” kembali menjadi ruang diskusi terbuka yang mempertemukan beragam perspektif. Salah satu sorotan utama datang dari jurnalis senior Oryza Wirawan yang secara lugas menyampaikan kritik terhadap sejumlah kebijakan Pemerintah Kabupaten Jember.
Berdasarkan data yang dihimpun dari laporan resmi pemerintah daerah, Oryza menyebut program Wadul Guse menunjukkan kinerja signifikan. Dalam periode 14 Maret hingga 14 Juni 2025, sebanyak 2.341 pengaduan terselesaikan dari total 3.252 laporan masyarakat. Capaian ini dinilai mencerminkan tingginya partisipasi publik sekaligus efektivitas sistem pengaduan digital.
Sebaliknya, ia menilai pendekatan “Bunga Desaku” yang mengandalkan kunjungan langsung ke desa-desa memerlukan biaya dan waktu yang relatif besar. Selain itu, daya tampung aspirasi dalam setiap kegiatan dinilai terbatas.
“Jika dibandingkan, Wadul Guse mampu menjangkau ribuan aduan dalam waktu singkat. Sementara Bunga Desaku, dengan seluruh mobilisasinya, hanya menampung sekitar satu hingga lima pertanyaan dalam satu kunjungan. Ini tentu kurang optimal,” ujarnya dalam forum tersebut.
Meski kritik disampaikan secara tajam, Bupati Jember Muhammad Fawait meresponnya secara terbuka. Ia menegaskan bahwa kedua program memiliki fungsi yang berbeda dan tidak dapat dibandingkan secara parsial.
Secara filosofis, Fawait menjelaskan bahwa “Bunga Desaku” tidak semata-mata menjadi sarana penyerapan aspirasi, melainkan wujud kehadiran langsung pemerintah di tengah masyarakat. Ia mencontohkan pengalaman saat menemukan warga yang belum memanfaatkan layanan kesehatan, meskipun program Universal Health Coverage (UHC) telah tersedia.
“Saya pernah menemukan seorang ustaz yang meninggal dunia di salah satu kecamatan. Saat saya berziarah dan bertanya kepada keluarganya mengapa tidak dibawa ke rumah sakit, jawabannya karena tidak memiliki biaya. Ini menunjukkan masih ada masyarakat yang belum tersentuh informasi,” ungkapnya.
Dari pengalaman tersebut, Fawait menekankan pentingnya pendekatan langsung untuk menjangkau kelompok masyarakat yang belum terakses teknologi atau kanal digital seperti Wadul Guse. Menurutnya, “Bunga Desaku” berperan sebagai jembatan antara kebijakan pemerintah dan realitas di lapangan.
Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa program tersebut juga menjadi bagian dari upaya pemerataan pelayanan publik. Pemerintah, kata dia, berkomitmen memastikan layanan tidak hanya terpusat di wilayah perkotaan, tetapi benar-benar menjangkau hingga pelosok desa. (zan)
What's Your Reaction?