Lomban dan Telassan Topa’ Jadi Magnet Wisata Lebaran Khas Madura Bangkalan
Tradisi Lomban dan Telassan Topa’ di Bangkalan Madura menjadi penutup Lebaran yang meriah. Selain mempererat silaturahmi, tradisi ini berpotensi besar menjadi daya tarik wisata dan penggerak ekonomi lokal.
BANGKALAN – Suasana Hari Raya Idul Fitri di Pulau Madura tidak hanya dirayakan dengan silaturahmi dan saling bermaafan. Masyarakat Madura memiliki tradisi unik yang menjadi penutup rangkaian Lebaran, yakni Lomban dan Telassan Topa’. Tradisi ini berlangsung meriah dan sarat makna kebersamaan.
Lomban biasanya digelar tujuh hari setelah Idul Fitri. Tradisi ini identik dengan kegiatan rekreasi bersama keluarga ke pantai atau tempat wisata, khususnya di wilayah pesisir. Warga berbondong-bondong menikmati suasana laut, membawa bekal makanan dari rumah, serta menghabiskan waktu dengan penuh keceriaan. Selain sebagai hiburan, Lomban juga menjadi momen mempererat hubungan keluarga dan antarwarga.
Sementara itu, Telassan Topa’ atau Lebaran Ketupat dilaksanakan dengan menyajikan hidangan khas seperti ketupat, opor ayam, sate, hingga sambal goreng. Tradisi ini juga diisi dengan kegiatan saling berkunjung, mirip dengan suasana Lebaran hari pertama yang penuh kehangatan.
Kepala Desa Kamal Samudri menegaskan, tradisi Lomban dan Telassan Topa’ merupakan warisan leluhur yang terus dijaga hingga saat ini. Ia menyebut, nilai kebersamaan dan rasa syukur menjadi inti dari tradisi tersebut.
“Ini bukan sekadar tradisi, tetapi bagian dari identitas budaya Madura yang mengajarkan kebersamaan, rasa syukur, dan silaturahmi,” ujarnya.
Kemeriahan kedua tradisi ini selalu dinantikan masyarakat setiap tahun. Mulai dari anak-anak hingga orang dewasa larut dalam suasana penuh kebahagiaan. Bahkan, tidak sedikit perantau yang sengaja memperpanjang masa mudik agar bisa mengikuti rangkaian tradisi tersebut.
Dengan tetap lestarinya Lomban dan Telassan Topa’, masyarakat Madura menunjukkan komitmen kuat dalam menjaga nilai-nilai budaya lokal di tengah arus modernisasi. Tradisi ini menjadi penutup manis dari rangkaian perayaan Lebaran yang penuh makna.
Pemerintah daerah pun didorong untuk menjadikan tradisi ini sebagai agenda tahunan yang lebih terkonsep. Dengan pengemasan yang lebih menarik, kegiatan ini dinilai berpotensi menghadirkan pertunjukan budaya dan bazar yang dapat meningkatkan perekonomian masyarakat.
“Semoga ke depan dijadikan agenda tahunan Kabupaten Bangkalan, sehingga lebih meriah dengan pertunjukan dan bazar, serta dapat meningkatkan pendapatan warga,” tambahnya.
Sekretaris Dinas Pariwisata Bangkalan, Hendra Gemma, menjelaskan bahwa Festival Telassan Topa’ yang digelar di alun-alun Bangkalan merupakan agenda rutin tahunan dan berpotensi menjadi salah satu event budaya unggulan daerah.
Ia menambahkan, tradisi Lomban yang digelar di Pelabuhan Kamal maupun Riyoyo Kupat di pesisir Desa Tajungan memiliki daya tarik wisata tersendiri. Pengunjung bahkan dapat menikmati pengalaman naik perahu nelayan yang telah dihias secara gratis mengelilingi pesisir.
“Kami telah berkoordinasi dengan pihak desa dan kecamatan untuk membuat event yang lebih terkonsep, sehingga tidak hanya meriah tetapi juga bisa menjadi sumber pendapatan daerah dari sektor wisata,” kata Hendra.
Berbagai potensi ekonomi juga muncul dari kegiatan ini, mulai dari pemberdayaan UMKM hingga pengelolaan parkir dan promosi wisata. Sejumlah instansi seperti Disperinaker, Diskop UKM Perindag, Dishub, Satpol PP, Disbudpar, hingga Diskominfo turut dilibatkan dalam mendukung kesuksesan acara.
Selain itu, sinergi lintas sektor juga terlihat dalam pengamanan dan kenyamanan pengunjung.
Aparat TNI dan Polri, termasuk Satpolairud, turut hadir untuk memastikan kegiatan berlangsung aman dan tertib.
Penulis : Luhur Utomo
What's Your Reaction?