Penjual Ikan Keliling Lamongan Berangkat Haji Setelah Menabung Belasan Tahun
Kisah inspiratif pasutri penjual ikan keliling asal Lamongan, Mulyono dan Wiwik Mujiyati, yang berhasil berangkat haji setelah menabung selama belasan tahun dengan disiplin dan penuh kesabaran.
LAMONGAN – Perjuangan panjang dan keteguhan hati akhirnya membuahkan hasil manis bagi pasangan suami istri penjual ikan keliling asal Kabupaten Lamongan, Jawa Timur. Setelah menyisihkan penghasilan harian selama belasan tahun, keduanya dipastikan berangkat ke Tanah Suci untuk menunaikan ibadah haji tahun ini.
Mulyono (48) dan istrinya, Wiwik Mujiyati (43), warga Desa Kemlagigede, Kecamatan Turi, tak mampu menyembunyikan rasa syukur. Keseharian mereka selama ini dihabiskan di tengah aktivitas pasar dengan aroma khas ikan, profesi yang telah dijalani lebih dari dua dekade dengan penuh keikhlasan.
Perjalanan spiritual pasangan ini dimulai sejak 2005. Saat itu, keduanya belum memiliki lapak tetap dan harus berjualan ikan secara keliling dari desa ke desa menggunakan sepeda motor tua, menghadapi terik matahari dan penghasilan yang tidak menentu.
Di tengah keterbatasan tersebut, muncul tekad kuat untuk bisa menunaikan ibadah haji. Mulyono mengungkapkan, kunci utama dari keberhasilan mereka adalah konsistensi dalam menabung setiap hari, berapapun hasil yang diperoleh.
“Setiap hari kami disiplin menyisihkan uang, mulai dari Rp50.000 hingga Rp150.000, tergantung hasil penjualan ikan. Yang penting konsisten,” ujar Mulyono saat ditemui di kediamannya.
Ketekunan itu membuahkan hasil ketika tabungan yang dikumpulkan perlahan akhirnya cukup untuk mendaftarkan diri sebagai calon jemaah haji pada 2012. Namun, perjalanan belum selesai karena mereka harus menunggu antrean panjang selama 14 tahun.
Momentum yang dinanti akhirnya tiba. Setelah melalui masa tunggu panjang, Mulyono dan Wiwik kini bersiap untuk berangkat ke Tanah Suci bersama kelompok terbang (kloter) mereka.
Segala persiapan, baik fisik maupun batin, telah dilakukan dengan matang. Bagi keduanya, perjalanan ini bukan sekadar ibadah, tetapi juga bukti bahwa niat tulus yang dijaga dengan kesabaran akan menemukan jalannya.
Di Tanah Suci, Mulyono dan Wiwik berkomitmen untuk fokus menjalankan ibadah secara maksimal. Mereka juga telah menyiapkan doa-doa khusus untuk keluarga yang ditinggalkan.
“Kami ingin berdoa agar seluruh keluarga diberikan kesehatan, keberkahan, serta kelancaran rezeki. Ini adalah panggilan yang sangat kami syukuri,” kata Wiwik.
Kisah keduanya menjadi potret nyata bahwa keterbatasan ekonomi bukan penghalang untuk meraih rukun Islam kelima. Dengan disiplin dan kesabaran, hasil usaha sederhana pun mampu mengantarkan mereka menuju Tanah Suci.
Perjalanan Mulyono dan Wiwik juga menjadi inspirasi bagi banyak orang bahwa mimpi besar bisa dicapai dengan langkah kecil yang dilakukan secara konsisten setiap hari.
Penulis : Yoga
What's Your Reaction?