Ratusan Warga Aceh Singkil Nobar Film Papua, Soroti Krisis Lingkungan
Ratusan warga Aceh Singkil mengikuti nobar film dokumenter Pesta Babi yang membahas isu lingkungan dan masyarakat adat Papua. Kegiatan ini menjadi ruang diskusi publik sekaligus ajakan menjaga kelestarian alam.
ACEH SINGKIL – Ratusan warga Kabupaten Aceh Singkil memadati sebuah warung kopi di kawasan Lae Butar, Kecamatan Gunung Meriah, untuk mengikuti nonton bareng (nobar) film dokumenter Pesta Babi, Senin (18/5/2026) malam.
Kegiatan tersebut bukan sekadar hiburan biasa. Nobar film dokumenter itu berubah menjadi ruang diskusi publik yang membahas persoalan lingkungan hidup dan kehidupan masyarakat adat di Papua.
Peserta yang hadir berasal dari berbagai kalangan. Mulai dari generasi muda, masyarakat sipil, jurnalis, organisasi kepemudaan, hingga pegiat lingkungan tampak mengikuti kegiatan dengan antusias.
Suasana diskusi berlangsung hangat usai pemutaran film. Sejumlah peserta terlihat aktif menyampaikan pandangan terkait kondisi lingkungan dan pentingnya menjaga kelestarian alam.
Kegiatan ini digagas oleh kolaborasi sejumlah organisasi di Aceh Singkil, yakni Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Persiapan Aceh Singkil, Pemuda Muhammadiyah Aceh Singkil, Chinquele, Aceh Singkil Expedition (ASE), dan PELITA.
Ketua HMI Cabang Persiapan Aceh Singkil, Ahmad Nasir, mengatakan tingginya antusiasme masyarakat menunjukkan adanya solidaritas terhadap persoalan yang dihadapi masyarakat Papua.
“Alhamdulillah kita melihat antusiasme masyarakat Aceh Singkil pada kegiatan nobar ini. Artinya, apa yang dirasakan masyarakat Papua, masyarakat Aceh umumnya juga ikut merasakan, karena bagaimanapun ketika kita satu negara, artinya kita senasib dan sepenanggungan,” ujar Ahmad Nasir.
Menurutnya, film dokumenter tersebut menjadi media refleksi agar masyarakat lebih peduli terhadap isu kemanusiaan dan lingkungan yang terjadi di berbagai daerah di Indonesia.
Ia menilai generasi muda memiliki peran penting dalam membangun kesadaran sosial, terutama terhadap persoalan kerusakan lingkungan dan dampaknya terhadap kehidupan masyarakat adat.
Sementara itu, perwakilan Pemuda Muhammadiyah Aceh Singkil, Rifai, menyebut persoalan lingkungan yang terjadi di Papua sejatinya juga menjadi ancaman di banyak daerah lain, termasuk Aceh Singkil.
Karena itu, ia mengajak masyarakat untuk mulai menjaga alam dari lingkungan sekitar demi keberlangsungan hidup generasi mendatang.
“Dari itu, mari kita sama-sama menjaga kelestarian alam kita di Aceh Singkil demi keberlangsungan hidup anak cucu kita di kemudian hari,” katanya.
Ketua Aceh Singkil Expedition (ASE), Graha, berharap kegiatan nobar dan diskusi semacam ini dapat menjadi ruang kolaborasi lintas organisasi dalam membangun kesadaran masyarakat terhadap isu lingkungan.
Menurutnya, persoalan lingkungan tidak bisa diselesaikan secara sendiri-sendiri. Dibutuhkan keterlibatan banyak pihak, terutama generasi muda dan organisasi masyarakat sipil.
Ia menilai kegiatan diskusi publik seperti ini penting untuk memperkuat kepedulian sosial sekaligus membangun gerakan bersama dalam menjaga lingkungan hidup di Aceh Singkil.
Selain menjadi ruang edukasi, kegiatan tersebut juga diharapkan mampu mempererat hubungan antarkomunitas dan organisasi kepemudaan di Aceh Singkil dalam mendorong perubahan sosial yang lebih positif.
Penulis : Gusti
What's Your Reaction?