Diduga Konflik Rumah Tangga SPPG Sukomulyo Lamongan Ditutup Lalu Dijual

Operasional Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Sukomulyo, Lamongan, mendadak lumpuh total. Tempat pelayanan gizi ini ditutup dan dijual senilai Rp 1,5 miliar diduga akibat konflik rumah tangga pemilik lam

Jun 9, 2026 - 15:38
 0
Diduga Konflik Rumah Tangga SPPG Sukomulyo Lamongan Ditutup Lalu Dijual
Prahara Rumah Tangga Bikin SPPG Sukomulyo Lamongan Disegel Dan Dijual

LAMONGAN – Aktivitas di Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Sukomulyo, Lamongan, mendadak lumpuh total dan berhenti beroperasi sejak Minggu sore kemarin. Penutupan sepihak fasilitas pelayanan gizi masyarakat tersebut diduga kuat dipicu oleh adanya konflik internal alias prahara rumah tangga yang membelit keluarga pemilik lama. Selasa (9/6/2026).

Imbas dari pusaran konflik domestik tersebut, aset bangunan SPPG itu akhirnya dilego kepada seorang pembeli bernama Sadak guna melunasi tanggungan utang di bank yang menjerat pemilik lama. Begitu proses serah terima dinyatakan rampung, bangunan tersebut langsung digembok rapat dan dipasang banner penutup di bagian fasad depan.

Berdasarkan penuturan Sadak selaku pembeli baru yang menghimpun informasi dari pihak SPPI (Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia), operasional harian tempat itu sebenarnya berjalan tanpa kendala. Namun, badai ketidakharmonisan terkait pembagian uang harian antara pemilik lama dan suaminya diduga memicu kacaunya manajemen keuangan.

"Ada masalah internal antara pemilik lama dengan suaminya. Nah, uang itu yang uang untuk kontrak, itu kan kontrak nih tiap harinya nih SPPG-nya itu. Nah itu masuk ke suaminya. Intinya ada problem rumah tangga, begitu," ungkap Sadak saat diwawancarai awak media, Selasa (9/6/2026) pagi.

Sadak menambahkan, imbas dari uang harian yang diduga dikuasai secara sepihak oleh sang suami di tengah badai rumah tangga tersebut, pemilik lama dilaporkan kelabakan dan kesulitan mendapatkan pemasukan. Akibatnya, ia tak mampu membayar cicilan utang Rekening Koran (RK) miliknya di bank yang sudah jatuh tempo.

Sebelum mengambil langkah ekstrem dengan menjual tempat tersebut, pemilik lama dikabarkan sempat mengadukan peliknya persoalan ini dan memohon bantuan kepada pihak yayasan yang menaungi SPPG. Namun, lantaran tidak kunjung mendapatkan respons atau jalan keluar konkret, ia terpaksa melepas bangunan itu seharga Rp 1,5 miliar kepada Sadak demi membereskan utangnya.

"Di situ kan ada masanya toh, termasuk membayar tiap bulannya, di situ gak terbayarkan. Kenapa demikian? Karena tidak ada pemasukan. Bahkan sempat mengadu ke yayasan kalau gak salah waktu itu, tapi tidak ada tanggapan. Makanya dijual ke saya untuk bayar utang," imbuh Sadak membeberkan kronologi.

Aksi penyegelan yang dilakukan secara mendadak pada Minggu sore ini tak pelak mengejutkan para pengurus lapangan dari Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia (SPPI). Pasalnya, mereka sudah telanjur membelanjakan modal untuk bahan-bahan makanan demi kebutuhan operasional hari Senin.

Pihak SPPI sebenarnya sempat melayangkan permintaan kelonggaran waktu selama dua minggu kepada Sadak agar bahan makanan yang telah dibeli tidak mubazir menjadi sampah. Namun, usai menggelar pertemuan tatap muka secara langsung dengan Sadak di Lamongan, permohonan itu akhirnya ditarik kembali dan mereka pasrah menerima keputusan penyegelan tersebut.

Meski saat ini aktivitas pelayanan di SPPG Sukomulyo lumpuh total akibat rembetan masalah keluarga pemilik lama, Sadak menegaskan komitmennya. Ia berjanji akan mengoperasikan kembali tempat tersebut sebagai fasilitas SPPG agar roda pelayanan gizi bagi masyarakat luas bisa berputar normal seperti sedia kala. (Yoga/KR)

 

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow