Jum’at Pon Bulan Dzulhijah Diyakini menjadi Hari Baik dan Berkah, 324 Calon Pengantin di Banyuwangi Mengikat Janji Suci
Hari Jum’at Pon pada Bulan Dzulhijah (Bulan haji) tahun ini benar-benar menjadi hari terbaik dan berkah menurut keyakinan warga Banyuwangi untuk mengikat janji suci Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, tercatat ada 324 pasangan yang melangsungkan akad nikah secara serentak di hari ini
KABAR RAKYAT, BANYUWANGI - Bagi masyarakat Jawa maupun Osing Banyuwangi memilih hari baik untuk melangsungkan pernikahan bukan hanya sekedar formalitas namun telah menjadi keyakinan kuat untuk memastikan keharmonisan, rejeki dan keselamatan rumah tangga.
Hari Jum’at Pon pada Bulan Dzulhijah (Bulan haji) tahun ini benar-benar menjadi hari terbaik dan berkah menurut keyakinan warga Banyuwangi untuk mengikat janji suci. Tradisi ini, biasanya didasarkan pada penjumlahan nilai angka (neptu) dan hari lahir (weton) kedua calon pengantin.
Berdasarkan data dari Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, tercatat ada 324 pasangan yang melangsungkan akad nikah secara serentak di hari ini. Fenomena ini praktis membuat para penghulu harus pontang-panting, bahkan rela berangkat subuh demi melayani gelombang pengantin.
"Ada keyakinan kuat di tengah masyarakat bahwa hari ini adalah hari baik, ujar Kepala Kantor Kemenag Banyuwangi, Dr. Chaironi Hidayat, S.Ag., M.M., kepada TIMES Indonesia, Jumat, (5/6/2026).
Dari total ratusan pasangan tersebut, Kecamatan Rogojampi mentasbihkan diri sebagai wilayah paling sibuk. "Terbanyak di Kecamatan Rogojampi, mencapai 39 pasangan," ungkap Chaironi.
Kombinasi antara weton Jumat Pon dan sakralnya bulan Dzulhijjah (bulan haji) dipercaya membawa kemuliaan yang berlipat ganda. Pasangan yang menikah di hari ini diyakini akan dianugerahi limpahan rezeki, keharmonisan yang langgeng, serta jalan keluar yang mudah dalam mengarungi bahtera rumah tangga.
Geliat kesibukan yang luar biasa salah satunya terekam di Kecamatan Srono. Di wilayah ini, ada 28 pasangan yang mengantri untuk dihalalkan. Kondisi ini memaksa para petugas Kemenag bekerja di luar jam kerja normal.
Penghulu Kecamatan Srono, M. Fauzan Anshori, S.HI, M.M., menceritakan bagaimana dirinya harus berpacu dengan waktu. Demi memastikan seluruh prosesi berjalan khidmat tanpa ada yang terlambat, Fauzan sudah harus berseragam rapi dan keluar rumah saat azan subuh baru saja berkumandang.
"Hari ini saya sudah berangkat dari rumah jam 4 subuh. Kalau melihat jadwal padat yang ada, kemungkinan prosesi akad nikah terakhir baru bisa selesai sekitar jam 21.00 WIB nanti malam," ungkap Fauzan.
Menurutnya, fanatisme masyarakat terhadap hari baik ini memang bukan rahasia lagi. Setiap kali kalender menunjukkan perpaduan Jumat Pon dan bulan Dzulhijjah, Kantor Urusan Agama (KUA) selalu kebanjiran berkas pendaftaran nikah.
“Dulu di Jumat Pon bulan Dzulhijjah bahkan sempat ada 30 lebih pasangan yang menikah dalam sehari di Srono saja,” kata Penghulu Kecamatan Srono, M. Fauzan Anshori, S.HI, M.M.***
What's Your Reaction?