Piala Soeratin Tak Boleh Berakhir Jadi Seremoni, Askab PSSI Bondowoso Rencanakan Pembinaan Berkelanjutan
Piala Soeratin U-13 dan U-15 di Bondowoso tak sekadar menjadi ajang kompetisi. Askab PSSI menegaskan pembinaan pemain muda harus berlangsung berkelanjutan hingga level profesional agar talenta daerah tidak berhenti di tengah jalan.
BONDOWOSO – Piala Soeratin U-13 dan U-15 yang digelar di Stadion Bondowoso bukan sekadar agenda tahunan kompetisi sepak bola usia dini.
Turnamen ini menjadi tolok ukur keseriusan pembinaan atlet muda di Kabupaten Bondowoso.
Ajang tersebut diharapkan menjadi pintu lahirnya pesepak bola berbakat yang mampu menembus level provinsi hingga nasional. Namun, kompetisi semata dinilai tidak cukup jika tidak diikuti pembinaan yang berkelanjutan.
Ketua Askab PSSI Bondowoso, Subangkit Adiputra, merencanakan pembinaan sepak bola tidak boleh berhenti setelah kompetisi usia 13 maupun 15 tahun selesai digelar.
Menurutnya, banyak potensi pemain muda akhirnya hilang karena tidak memiliki jalur pembinaan yang jelas menuju kelompok usia berikutnya.
"Harapan saya sebenarnya ini konsisten. Jadi tidak hanya di U-15, kemudian kita tidak konsisten. Karena apa yang diperoleh dari usia 13 sampai 15 tahun, seandainya tidak konsisten, artinya percuma," kata Subangkit, Jumat (24/07/2026).
Ia menegaskan, rantai pembinaan harus terus berjalan mulai U-13, U-15, U-17 hingga menjadi pemain yang siap tampil di Porprov maupun Liga 4.
"Jadi U-13, U-15, U-17, di atas itu sudah ke Porprov, kemudian ke Liga 4. Kalau sepak bola ini tanpa konsistensi, tidak bisa," ujarnya.
Subangkit juga mendorong para pemain muda agar tidak hanya berkompetisi di Bondowoso. Menurutnya, pengalaman bertanding di luar daerah menjadi bekal penting untuk meningkatkan kualitas teknik maupun mental bertanding.
Ia menjelaskan, mayoritas peserta Piala Soeratin berasal dari sekolah sepak bola (SSB) dan klub binaan. Karena itu, proses pengembangan karier pemain harus menjadi tanggung jawab bersama antara klub, Askab PSSI, dan pemerintah daerah.
"Kalau hanya bermain di Bondowoso saja, saya jamin tidak akan bisa berkembang dengan baik. Mereka sudah punya channel masing-masing dan kita siap mendukung," tegasnya.
Dukungan tersebut, lanjut Subangkit, tidak hanya berupa pembinaan teknis. Pemain berprestasi juga berpeluang memperoleh apresiasi dari pemerintah daerah sebagai bentuk penghargaan atas capaian mereka.
Askab PSSI bersama KONI dan Pemerintah Kabupaten Bondowoso juga berkomitmen membuka akses bagi pemain potensial untuk melanjutkan karier ke level yang lebih tinggi.
"Kita akan permudah, bahkan berusaha membantu paling tidak bagaimana anak ini bisa sampai di tempat yang mereka tuju dengan baik dan dengan fasilitas yang mungkin mumpuni. Jalan yang kita bantu, proses selanjutnya terserah adik-adik kita," ujarnya.
Sementara itu, Kepala Disparbudpora Bondowoso, Gede Budiawan, mengatakan pemerintah daerah bersama KONI terus menyusun pola pembinaan atlet muda agar potensi olahraga di Bondowoso tidak berhenti sebagai bakat semata.
Menurutnya, cabang sepak bola memiliki potensi besar karena setiap tahun muncul banyak pemain muda berbakat yang membutuhkan ruang kompetisi dan pembinaan berjenjang.
"Khususnya sepak bola, Askab PSSI secara rutin mengadakan Piala Soeratin untuk usia 13 dan 15 tahun. Kami berharap event ini benar-benar dimanfaatkan untuk mencari bibit-bibit muda sepak bola Kabupaten Bondowoso," kata Gede.
Ia memastikan pemerintah daerah akan terus berkoordinasi dengan KONI dan Askab PSSI dalam menyiapkan dukungan bagi atlet yang akan membawa nama Bondowoso di tingkat Provinsi Jawa Timur.
Meski dihadapkan pada keterbatasan anggaran, pemerintah berkomitmen mengoptimalkan sarana olahraga agar pembinaan talenta muda tetap berjalan dan tidak berhenti hanya sebagai agenda kompetisi tahunan.
What's Your Reaction?