Saat Bupati Jember Datang ke Desa, Harapan dan Kehangatan Itu Terasa Nyata
KABAR RAKYAT, JEMBER - Para petani, emak-emak, hingga pedagang kecil yang biasanya hanya bisa menyampaikan keluhan melalui perangkat desa, kini bisa berbicara langsung lewat program yang telah di gagas Bupati Jember Muhammad Fawait “Bunga Desaku" (Bupati Ngantor di Desa dan Keluruhan).
Lewat programnya itu Bupati Jember, tak hanya sekadar datang melepas formalitas sebagai pemimpin daerah, dirinya hadir langsung ke tengah-tengah warga untuk mendengar, mencatat, dan menghadirkan solusi atas setiap permasalahan yang dialami warganya.
Ketua DPC PPP Jember, Madini Farouq atau akrab disapa Gus Mamak, melihat program Bunga Desaku sebagai inti dari pelayanan seorang pemimpin. Bukan hanya menyerap aspirasi, tetapi Bupati Jember berhasil membangun kedekatan emosional dengan warganya.
“Komunikasi langsung itu menciptakan ikatan. Ada rasa didengar, ada kepercayaan yang tumbuh,” ujarnya.
Baginya, kehadiran pemimpin di tengah masyarakat adalah bentuk kepemimpinan yang membumi. Bukan hanya menerima laporan di atas kertas, tetapi menyaksikan sendiri realitas yang sering kali tak tertangkap angka dan data.
Di lapangan, Bupati Jember tak datang sendiri. Para Kepala Dinas ikut serta, duduk bersama warga, mendengar persoalan yang sama. Dari jalan rusak hingga peluang usaha desa, semuanya dibahas dalam ruang yang terasa lebih hangat daripada rapat formal.
Gus Mamak menilai langkah ini juga menjadi cara untuk memastikan kebijakan tidak melenceng dari kebutuhan nyata. “Kalau hanya mengandalkan laporan, ada risiko informasi tidak utuh. Turun langsung itu cara paling jujur melihat kondisi masyarakat,” tambahnya.
Di tengah kekhawatiran soal anggaran dan krisis energi, program ini justru menunjukkan sisi lain—kesederhanaan. Rombongan pejabat kini tidak lagi datang dengan iring-iringan panjang kendaraan. Mereka berbagi transportasi, datang bersama dalam satu kendaraan besar.
Bagi warga, hal itu bukan sekadar efisiensi. Itu adalah simbol bahwa pemerintah pun berusaha berhemat, sama seperti mereka.
Sementara itu, Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Jember, Regar Jeane Dealen Nangka, mengingatkan bahwa tidak semua masyarakat bisa menjangkau layanan digital. Di beberapa sudut desa, masih ada lansia atau warga dengan keterbatasan akses yang membutuhkan sentuhan langsung.
“Kehadiran pemerintah di lapangan adalah bentuk keberpihakan. Tidak semua bisa diselesaikan lewat layar,” katanya.
Program Bunga Desaku pun menjadi jembatan—menghubungkan dunia digital yang terus berkembang dengan realitas masyarakat yang beragam.
Bersama Bunga Desaku, bukan hanya masalah yang mulai menemukan jalan keluar, tetapi juga perasaan bahwa warga tidak sendirian. Karena hari itu, negara benar-benar datang bukan sebagai konsep, tapi sebagai kehadiran yang bisa dilihat, didengar, dan dirasakan.
What's Your Reaction?