Soal Jembatan Darurat Sentong Bondowoso Miring, Luqman Beril Buka Fakta Baru
Lukman Beryl menegaskan dirinya bukan pelaksana proyek Jembatan Darurat Sentong Bondowoso. Ia hanya ditunjuk sebagai Ketua Panitia Keamanan Pelaksanaan saat rapat bersama warga dan pemerintah.
BONDOWOSO – Luqman Beril akhirnya buka suara terkait polemik pembangunan Jembatan Darurat Sentong di Kelurahan Nangkaan-Sukowiryo, Kecamatan/Kabupaten Bondowoso.
Ia menegaskan dirinya bukan pelaksana proyek pembangunan, melainkan hanya ditunjuk sebagai Ketua Panitia Keamanan Pelaksanaan.
Menurut Lukman, perlu ada pelurusan informasi agar tidak muncul kesalahpahaman di tengah masyarakat soal siapa pihak yang bertanggung jawab dalam pembangunan jembatan darurat tersebut.
“Perlu saya luruskan, saya ini bukan pelaksana proyek. Saya ditunjuk saat rapat bersama warga dan pemerintah sebagai Panitia Keamanan Pelaksanaan, bukan yang mengerjakan pembangunan,” kata Luqman Beril pada media, Selasa (28/04/2026).
Dia menjelaskan, penunjukan dirinya dilakukan dalam rapat bersama yang melibatkan sejumlah unsur pemerintah daerah dan perwakilan warga setempat.
Dalam forum itu hadir Kepala Pelaksana BPBD, Asisten I Pemkab Bondowoso, Camat, Kepala Bakesbangpol, hingga Plt Lurah Nangkaan.
Menurut Luqman, dirinya dipercaya mewakili warga untuk membantu mengawal keamanan selama proses pembangunan berlangsung.
Dia menegaskan, pekerjaan pembangunan jembatan sepenuhnya dikerjakan oleh dinas terkait, bukan masyarakat sekitar maupun panitia keamanan.
“Yang mengerjakan murni dari dinas. Kalau soal tukang atau teknis lapangan saya kurang tahu, tapi jelas bukan warga Perumahan Nangkaan,” ujarnya.
Lukman menyebut masyarakat baru terlibat setelah pembangunan utama selesai, yakni membantu menambah pegangan bambu di sisi kanan dan kiri jembatan.
Langkah itu dilakukan secara swadaya demi meningkatkan keselamatan warga yang melintas, terutama anak-anak dan lansia.
“Warga RT 20 Nangkaan dan RT 6 Sukowiryo waktu itu berinisiatif menambah bambu sebagai pegangan. Karena kami lihat jaraknya renggang dan rawan, terutama kalau anak kecil melintas,” jelasnya.
Dia menambahkan, bambu yang dipasang berasal dari lahan milik warga di sisi selatan sungai.
Warga kemudian menebang, membelah, dan memasang bambu tersebut secara gotong royong tanpa biaya dari pemerintah.
“Itu murni hasil rapat warga. Bambu milik warga sendiri, lalu dipasang supaya pagar jembatan lebih rapat dan lebih aman,” katanya.
Saat ditanya soal desain jembatan, Lukman menyebut sejak awal warga hanya menginginkan akses tersebut dipakai khusus pejalan kaki.
Menurut dia, warga tidak ingin jembatan dipakai kendaraan karena berada di jalur lingkungan perumahan dan berpotensi mengganggu aktivitas keluar masuk warga.
“Kesepakatan awal saat rapat, warga maunya hanya untuk pejalan kaki. Karena ini akses perumahan, kalau kendaraan lewat dikhawatirkan mengganggu keluar masuk warga,” ungkapnya.
Selain itu, warga juga mengusulkan pagar tembok dan sistem buka-tutup akses jembatan pada jam tertentu demi keamanan lingkungan.
“Kami usulkan akses ditutup mulai pukul 00.00 sampai 04.00 WIB. Tapi sifatnya kondisional, misalnya ada bencana mendesak, BPBD tetap bisa buka akses,” ujarnya.
Dia menjelaskan, nantinya kunci akses jembatan direncanakan dipegang tiga pihak, yakni BPBD, petugas keamanan perumahan, dan Ketua RT setempat.
Dengan sistem tersebut, menurut Lukman, keamanan lingkungan tetap terjaga tanpa menghambat kebutuhan darurat masyarakat.
Terkait konstruksi, Lukman mengaku sempat melihat langsung proses pengerjaan dan mempertanyakan posisi kayu penyangga yang berada dekat bibir sungai.
“Waktu itu warga banyak yang tanya juga, kenapa langsung ke palung sungai. Tapi kami diam saja karena yang lebih paham teknis tentu pihak dinas,” ucapnya.
Pasca insiden jembatan miring akibat diterjang arus sungai, ia mengakui banyak warga kini khawatir saat hendak melintas.
“Kalau kondisi masih seperti sekarang tentu warga takut. Saya sendiri setiap hari memantau dari atas maupun bawah jembatan,” katanya.
Setiap hasil pemantauan, lanjut dia, selalu dilaporkan ke grup koordinasi tim jembatan agar segera ada tindak lanjut perbaikan.
“Saya laporkan titik-titik yang perlu diperbaiki. Harapannya segera ada penanganan, karena keselamatan warga yang utama,” pungkasnya.
What's Your Reaction?