Jembatan Roboh, Siswa SD di Aceh Singkil Bertaruh Nyawa ke Sekolah
Siswa SD di Aceh Singkil terpaksa menyeberangi sungai menggunakan rakit sejak jembatan roboh pada 2023. Mereka bahkan menyampaikan surat terbuka kepada Presiden agar segera dibangun jembatan.
ACEH SINGKIL — Perjuangan siswa sekolah dasar di Desa Sarasah, Kecamatan Simpang Kanan, Kabupaten Aceh Singkil, menjadi sorotan. Setiap hari, mereka harus menyeberangi sungai menggunakan rakit demi bisa bersekolah di Desa Cibubukan.
Kondisi ini mencerminkan masih adanya kesenjangan infrastruktur di wilayah terpencil, sekaligus menjadi harapan agar pemerintah segera mengambil langkah nyata untuk menjamin keselamatan dan akses pendidikan anak-anak.
Situasi tersebut terjadi sejak jembatan penghubung antar desa roboh akibat banjir pada 2023 dan hingga kini belum diperbaiki secara permanen.
Aksi para siswa yang menyuarakan kondisi itu terekam dalam video berdurasi 2 menit 31 detik, didampingi oleh Wahyu Hidayat.
Dalam video tersebut, para siswa kompak membacakan surat terbuka yang ditujukan kepada Prabowo Subianto.
“Kami anak Desa Sarasah yang sekolah di Desa Cibubukan berangkat naik perahu karena jembatan putus akibat banjir 2023. Kami mohon bantuan Bapak Presiden agar dibangunkan jembatan di Kecamatan Simpang Kanan, Kabupaten Aceh Singkil,” ucap para siswa.
Keluhan serupa juga disampaikan warga setempat. Ia menjelaskan bahwa jembatan sempat dibangun kembali secara darurat oleh pihak BUMN, namun konstruksinya tidak bertahan lama dan kembali roboh, bahkan sebelum banjir besar pada November 2025.
“Sejak 2023 jembatan roboh. Memang sempat dibangun seadanya, tapi tidak kuat dan kembali rusak. Jadi sampai sekarang belum ada akses yang layak,” ujarnya.
Selain akses transportasi yang berisiko, warga juga menghadapi keterbatasan jaringan internet yang semakin memperparah kondisi pendidikan di wilayah tersebut.
“Anak-anak harus naik perahu setiap hari, kita khawatir mereka jatuh ke sungai. Ditambah lagi jaringan internet di desa itu sangat sulit diakses,” tambahnya.
Kondisi ini menjadi pengingat bahwa pemerataan pembangunan infrastruktur dan akses pendidikan masih menjadi pekerjaan rumah besar bagi pemerintah, terutama di daerah terpencil.
What's Your Reaction?