SPPG Al Akhyar Tutup Sementara, Ahli Gizi dan Akuntan Mundur
SPPG Ponpes Al Akhyar Bangkalan menghentikan program MBG akibat kekosongan tenaga ahli gizi dan akuntan, berdampak pada 2.493 penerima manfaat.
BANGKALAN – Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Ponpes Al Akhyar Baengas, Kecamatan Labang, Kabupaten Bangkalan, menghentikan sementara penyaluran program Makan Bergizi Gratis (MBG) sejak 15 April 2026.
Informasi yang dihimpun dari sejumlah sekolah penerima menyebutkan, penghentian layanan tersebut awalnya dikaitkan dengan kondisi tenaga ahli gizi yang tidak lagi bertugas.
“Informasi itu yang saya terima dari petugas pengiriman sehari sebelum berhenti,” ujar seorang guru yang enggan disebutkan namanya.
Salah satu wali murid, Hasan, mengaku anaknya sudah hampir sebulan tidak menerima manfaat program MBG tanpa penjelasan yang jelas.
“Anak saya bilang sekarang tidak lagi mendapat MBG. Kalau masih berlanjut, semoga bisa segera kembali,” ungkapnya.
Ketua Satgas MBG Bangkalan, Bambang Budi Mustika, saat dikonfirmasi melalui sambungan telepon, mengaku terkejut atas informasi tersebut. Setelah dilakukan pengecekan, diketahui bahwa SPPG Ponpes Al Akhyar memang telah menghentikan operasionalnya.
Ia menjelaskan, penghentian layanan terjadi karena tenaga ahli gizi dan akuntan mengundurkan diri. Kondisi ini menyebabkan distribusi MBG ke sejumlah sekolah dan posyandu terhenti.
“Benar, yang bersangkutan telah melaporkan ke Badan Gizi Nasional untuk berhenti beroperasi sampai ada pengganti tenaga yang keluar,” jelas Bambang.
Akibatnya, sebanyak 2.493 penerima manfaat terdampak dari penghentian layanan tersebut. Bambang juga memastikan bahwa anggaran program otomatis dihentikan seiring berhentinya operasional SPPG.
“Semua sudah mendapat tembusan hingga tingkat provinsi, kabupaten, dan kecamatan. Secara otomatis anggaran dari BGN juga dihentikan,” tambahnya.
Dengan kondisi ini, masyarakat berharap pemerintah segera mengambil langkah cepat agar program MBG dapat kembali berjalan. Warga menilai keberadaan tenaga profesional seperti ahli gizi dan akuntan sangat krusial untuk menjaga kualitas layanan dan transparansi pengelolaan anggaran.
Selain itu, masyarakat juga mendorong percepatan rekrutmen tenaga pengganti agar distribusi MBG kembali normal dan kebutuhan gizi anak-anak tetap terpenuhi.
Penulis : Luhur Utomo
What's Your Reaction?