Dosen UNP Raih PhD Arab Saudi, Bongkar Solusi Tambang Ramah Lingkungan Dunia
Dosen Teknik Pertambangan UNP, Ir. Ardhymanto Am Tanjung, meraih gelar PhD dari King Abdulaziz University Arab Saudi melalui riset inovatif pengganti semen konvensional untuk tambang bawah tanah yang lebih ramah lingkungan dan rendah emisi karbon.
PADANG - Prestasi membanggakan kembali ditorehkan akademisi Universitas Negeri Padang (UNP). Dosen Departemen Teknik Pertambangan UNP, Ir. Ardhymanto Am Tanjung, sukses meraih gelar Doctor of Philosophy (PhD) bidang Mining Engineering dari King Abdulaziz University, Arab Saudi. Capaian itu sekaligus mempertegas kontribusi akademisi Indonesia dalam pengembangan riset pertambangan berkelanjutan di level internasional.
“Atas capaian ini, Alhamdulillah, segala puji dan syukur kepada Allah atas nikmat kesehatan, kesempatan, dan kemudahan yang diberikan hingga saya dapat menyelesaikan studi PhD di bidang Pertambangan di King Abdulaziz University, Saudi Arabia,” ujar Ardhymanto saat dihubungi Kantor Komunikasi dan Pemasaran Strategis melalui pesan WhatsApp, Sabtu (16/5/2026).
Dalam riset doktoralnya, Ardhymanto mengangkat isu strategis terkait pengembangan material alternatif pengganti semen konvensional untuk kebutuhan backfilling tambang bawah tanah. Penelitian tersebut dinilai relevan dengan arah pembangunan Saudi Vision 2030 yang menjadikan sektor pertambangan sebagai salah satu motor utama pertumbuhan ekonomi.
Ia menjelaskan, aktivitas tambang bawah tanah menghasilkan banyak material buangan atau waste material yang sebenarnya masih dapat dimanfaatkan kembali sebagai material backfilling demi meningkatkan kestabilan area bekas ekskavasi. Namun, penggunaan semen OPC sebagai bahan pengikat masih menjadi persoalan serius lantaran biaya produksi tinggi dan memicu peningkatan emisi karbon dioksida (CO₂).
“Riset ini menawarkan solusi melalui pengembangan material alternatif pengganti semen konvensional dengan memanfaatkan material yang berlimpah di Saudi Arabia, tetapi belum dieksplorasi secara optimal untuk kebutuhan industri pertambangan,” katanya.
Penelitian tersebut digarap lebih dari satu tahun dengan pendekatan multidisiplin yang melibatkan bidang mineral processing, mekanika batuan, hingga ilmu material. Hasil riset itu disebut membuka peluang besar lahirnya material pengikat alternatif yang lebih sustainable untuk praktik pertambangan bawah tanah, khususnya di Arab Saudi.
Tak hanya berhenti pada disertasi doktoral, Ardhymanto juga berhasil menerbitkan dua artikel ilmiah di jurnal internasional Q1 terindeks Scopus. Menariknya, seluruh biaya publikasi atau Article Processing Charge (APC) dibiayai penuh oleh Endowment/WAQF King Abdulaziz University.
“Semoga riset ini membawa manfaat bagi banyak orang,” tuturnya.
Keberhasilan tersebut sekaligus memperkuat posisi dosen UNP dalam percaturan riset global dan inovasi sektor pertambangan berkelanjutan. Capaian ini juga menjadi sinyal bahwa akademisi Indonesia mampu bersaing di tengah tuntutan industri tambang dunia yang kini semakin menekankan aspek keberlanjutan dan efisiensi lingkungan.
Riset Ardhymanto turut mendukung implementasi Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 4 tentang Pendidikan Berkualitas, SDG 9 mengenai Industri, Inovasi, dan Infrastruktur, SDG 12 terkait Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab, serta SDG 13 tentang Penanganan Perubahan Iklim.
What's Your Reaction?