Telan Anggaran BTT Rp 75 Juta, Jembatan Darurat Sentong Bondowoso Rusak Sebelum Diresmikan

Jembatan darurat Sentong Bondowoso senilai Rp75 juta rusak sebelum diresmikan akibat diterjang arus sungai deras. BPBD menutup akses sementara dan melakukan perbaikan gotong royong.

Apr 27, 2026 - 14:22
Apr 28, 2026 - 16:53
 0
Telan Anggaran BTT Rp 75 Juta, Jembatan Darurat Sentong Bondowoso Rusak Sebelum Diresmikan
Jembatan alternatif berbahan kayu di kawasan Sentong, Kelurahan Nangkaan, Bondowoso, terlihat digunakan warga sebagai akses sementara pasca ambruknya jembatan utama. Pada sisi pohon terpasang papan imbauan larangan bersandar di pagar jembatan demi keselamatan pengguna.

BONDOWOSO – Pemerintah Kabupaten Bondowoso melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) membangun jembatan darurat khusus pejalan kaki pasca ambruknya Jembatan Sentong di Kelurahan Nangkaan.

Jembatan darurat tersebut dibuat menggunakan material kayu dengan anggaran Belanja Tidak Terduga (BTT) dan menelan anggaran sebesar Rp75 juta.

Namun, sebelum diresmikan oleh Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bondowoso, jembatan darurat itu justru mengalami kerusakan. Kemudian kondisi ini memicu sorotan publik karena akses sementara yang disiapkan pemerintah belum sempat difungsikan secara optimal rusak akibat dihantam debet arus air sungai setelah hujan.

Kerusakan terjadi akibat tingginya debit air sungai yang membawa material sampah berupa kayu, bambu, ranting, dan batu. Material tersebut menghantam bagian bawah konstruksi hingga menyebabkan pergeseran struktur.

Kepala Pelaksana BPBD Bondowoso, Kristianto Putro Prasojo, mengatakan pihaknya sudah melakukan evaluasi terhadap kondisi jembatan pascakejadian tersebut.

Menurut dia, sejak awal konstruksi dirancang sederhana karena mempertimbangkan musim kemarau. Namun perubahan cuaca membuat debit air sungai meningkat drastis.

“Dari evaluasi kami, ada beberapa bagian yang perlu disesuaikan, terutama pada struktur agar lebih tahan terhadap debit air besar dan material sampah,” ujar Kristianto, Senin (27/4/2026).

Ia menegaskan, jembatan akan ditutup total selama tiga hingga empat hari guna proses perbaikan.

Kristianto menjelaskan, jembatan tersebut memiliki empat pilar dengan jarak antar pilar sekitar tiga meter. Desain itu disesuaikan dengan lebar sungai yang mencapai 12 hingga 15 meter.

Bagian pilar tengah menjadi titik paling terdampak karena tersangkut material sampah yang terbawa arus sungai.

Saat ini, BPBD bersama warga melakukan pembenahan ulang agar jembatan lebih aman dan nyaman saat digunakan masyarakat.

“Perbaikan tidak menggunakan tambahan anggaran pemerintah, tetapi dilakukan secara gotong royong,” katanya.

Sementara itu, Ketua Panitia Pelaksana Pembangunan Jembatan Alternatif, Lukman Beryl, menegaskan sejak awal jembatan tersebut memang dirancang sebagai akses darurat khusus pejalan kaki.

“Jembatan ini sejak awal dibangun sebagai jembatan darurat untuk pejalan kaki, bukan permanen,” ujar Lukman kepada wartawan.

Dia menuturkan, pembangunan dilakukan setelah rapat bersama warga RT 20 Nangkaan dan unsur pemerintah daerah. Namun yang melaksanakan secara total adalag rekanan atau pihak ke Tiga.

Pihak yang hadir saat pembahasan antara lain Asisten I Pemkab Bondowoso, Kepala Pelaksana BPBD, Camat Kota, Bapperida, BSBK, Plt Lurah Nangkaan, hingga Kepala Bakesbangpol.

Dalam rapat tersebut, seluruh pihak menyepakati sejumlah poin penting, terutama menyangkut kenyamanan dan keselamatan warga pengguna jembatan.

Namun, jembatan itu akhirnya rusak setelah diterjang arus deras beberapa waktu lalu.

“Debit air sangat tinggi. Selain itu arus membawa kayu, bambu, batu, dan ranting pohon,” katanya.

Material yang terbawa arus menghantam kaki jembatan sisi utara hingga bergeser dan rusak.

Menurut Lukman, posisi kaki jembatan memang berada langsung di jalur air sehingga lebih rentan terkena tekanan arus sungai.

Dia mengungkapkan warga sejak awal sudah menyampaikan kekhawatiran soal posisi konstruksi penyanggah jembatan dari kayu yang bersentuhan langsung dengan aliran air.

“Waktu itu dijelaskan oleh pihak dinas bahwa kayu kelapa cukup kuat menahan beban dan arus,” ungkapnya.

Meski demikian, kejadian terbaru dinilai membuktikan kekhawatiran warga memiliki dasar kuat.

Beruntungnya, saat insiden terjadi tidak ada warga yang sedang melintas di atas jembatan.

“Alhamdulillah tidak ada korban, karena saat kejadian jembatan sedang kosong,” ujarnya.

Usai kejadian, warga bersama panitia langsung mengimbau masyarakat agar tidak menggunakan jembatan sementara waktu. Laporan kerusakan juga segera disampaikan kepada BPBD Bondowoso.

Sebagai langkah pengamanan, jembatan darurat tersebut kini ditutup sementara sampai proses perbaikan selesai. Sementara itu, akses warga dialihkan melalui jembatan utama di sisi timur lokasi.

Menurut Lukman, jembatan utama masih bisa digunakan karena belum terputus total.

“Untuk sementara masyarakat kami arahkan menggunakan jembatan utama sambil menunggu perbaikan selesai,” katanya.

Dia juga membantah anggapan bahwa sejak awal jembatan dibangun dalam kondisi miring. Lukman menegaskan, posisi jembatan saat pertama selesai dibangun dalam keadaan lurus dan normal. Kemiringan yang terlihat saat ini terjadi setelah kaki jembatan terseret arus ke arah timur.

“Saya punya dokumentasi foto dan video sebelum dan sesudah kejadian,” jelasnya.

Dia menambahkan, kondisi jembatan saat ini cukup berbahaya bila dipaksakan dilintasi warga.

Menurut dia, struktur bawah jembatan harus dinormalkan terlebih dahulu agar aman digunakan kembali. Jika bagian bawah tetap terkena arus air tanpa penguatan, kerusakan serupa dikhawatirkan akan terulang.

Terkait pembangunan, Lukman menegaskan jembatan tersebut merupakan proyek dari dinas terkait. Warga, lanjut dia, hanya membantu menambahkan bambu sebagai pegangan di sisi jembatan.

Ia memastikan warga tidak ikut terlibat saat penggarapan, bahkan dirinya pun juga demikian.

Bambu tersebut berasal dari swadaya masyarakat, terutama warga wilayah selatan.

Selain itu, papan imbauan larangan bersandar dan berkerumun di atas jembatan juga dibuat secara gotong royong.

Di akhir keterangannya, Lukman menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat atas ketidaknyamanan yang terjadi.

“Kami mohon maaf. Demi keselamatan bersama, mohon sementara tidak melintasi jembatan darurat sampai perbaikan selesai,” pungkasnya.

 

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow