Wamen Komdigi Sebut Anak Butuh Jeda Digital, Festival Egrang Jember Dinilai Jadi Ruang Sosial Alternatif

May 9, 2026 - 13:40
May 9, 2026 - 19:00
 0
Wamen Komdigi Sebut Anak Butuh Jeda Digital, Festival Egrang Jember Dinilai Jadi Ruang Sosial Alternatif
Nezar Patria, Wakil Menteri Komunikasi dan Digital (naik egrang) saat menghadiri Festival Egrang Ke-14 di Ledokombo,Jember (9/5/26).

KABAR RAKYAT, JEMBER — Di tengah meningkatnya ketergantungan anak terhadap gawai dan dunia digital, Kabupaten Jember justru mempertahankan ruang bermain tradisional melalui Festival Egrang di Kecamatan Ledokombo.

Hal itu mendapat perhatian langsung dari Wakil Menteri Komunikasi dan Digital RI, Nezar Patria saat menghadiri Launching Festival Egrang ke-14 di Pasar Lumpur Ledokombo, Senin (4/5/2026).

Menurut Nezar, permainan tradisional seperti egrang memiliki nilai sosial dan pendidikan karakter yang penting di tengah masifnya aktivitas digital anak-anak.

“Anak-anak butuh semacam jeda dari aktivitas digital. Mereka perlu ruang bermain yang membuat mereka bergerak, berinteraksi langsung, dan belajar membangun kebersamaan,” kata Nezar.

Ia menilai Festival Egrang di Jember bukan sekadar agenda budaya tahunan, tetapi menjadi contoh bagaimana masyarakat lokal mampu mempertahankan ruang sosial berbasis tradisi di tengah arus digitalisasi.

Di Ledokombo, permainan egrang tidak hanya dipertahankan sebagai warisan budaya, tetapi berkembang menjadi gerakan komunitas yang melibatkan anak-anak, keluarga, hingga ekonomi warga desa.

Festival yang digelar Komunitas Tanoker itu diisi lomba egrang antar sekolah, senam ibu-ibu antar desa, lomba mewarnai anak PAUD, hingga bazar kuliner dan kerajinan masyarakat.

Penjabat Sekretaris Daerah Jember Akhmad Helmi Lukman yang hadir mewakili Bupati Jember Muhammad Fawaitmengatakan Festival Egrang menjadi identitas budaya khas Jember yang tetap hidup di tengah perkembangan teknologi.

“Festival Egrang adalah bukti bahwa tradisi di Jember tidak kehilangan relevansinya di era digital. Ini bukan hanya pelestarian budaya, tetapi ruang pendidikan karakter dan penguatan kehidupan sosial masyarakat,” ujarnya.

Menurut Helmi, permainan egrang mengandung nilai keberanian, keseimbangan, fokus, ketekunan, dan kerja sama yang penting dalam pembentukan generasi muda.

Sementara itu, pendiri Komunitas Tanoker Suporaharjo menyebut Festival Egrang juga memberi dampak ekonomi bagi masyarakat sekitar.

“Bukan hanya anak-anak yang merasakan kegembiraan festival ini, tetapi masyarakat juga ikut bergerak melalui kuliner dan kerajinan yang dipasarkan kepada pengunjung,” katanya.

Selama 14 tahun terakhir, Festival Egrang berkembang menjadi salah satu wajah budaya alternatif Jember yang memadukan permainan tradisional, pemberdayaan desa, dan ruang interaksi sosial lintas generasi.

Turut hadir dalam kegiatan tersebut Dekan Fakultas Filsafat UGM Siti Murtianingsih, Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Jember Iqbal Reza Nugraha, jajaran Forkopimda, serta OPD Kabupaten Jember.

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow