Komunitas Warga Bondowoso Patungan Perbaiki Jalan Rusak, Sindir Keras Pemerintah ‘Abai’

Warga Bondowoso patungan hingga Rp6 juta untuk memperbaiki Jalan Cokroaminoto yang rusak dan berlubang sepanjang 2,5 kilometer. Komunitas Makelar Akhirat bergerak cepat demi keselamatan pengguna jalan dan mendesak transparansi pemerintah soal anggaran infrastruktur.

Mar 4, 2026 - 15:21
Mar 4, 2026 - 15:22
 0
Komunitas Warga Bondowoso Patungan Perbaiki Jalan Rusak, Sindir Keras Pemerintah ‘Abai’
Sejumlah anggota Komunitas Makelar Akhirat melakukan penambalan jalan berlubang secara swadaya di ruas Jalan Cokroaminoto, tepat di depan Rumah Sakit Mitra Medika Bondowoso, Sabtu malam (1/3/2026). Aksi gotong royong ini dilakukan demi keselamatan pengguna jalan yang kerap melintas di jalur tersebut.

KABAR RAKYAT,BONDOWOSO – Sejumlah komunitas warga bergerak memperbaiki ruas Jalan Cokroaminoto, Kelurahan Kademangan, Kecamatan/Kabupaten Bondowoso, secara swadaya.

Aksi yang dilakukan Selasa (3/3/2026) malam itu menjadi bentuk respons cepat atas kondisi jalan berlubang yang dinilai membahayakan pengguna, terutama pada malam hari.

Perbaikan dilakukan sepanjang kurang lebih 2,5 kilometer. Titik yang ditangani membentang dari kawasan Pasar Sapi hingga arah Rumah Sakit Mitra Medika, jalur yang setiap hari dilalui kendaraan roda dua maupun roda empat dengan intensitas tinggi.

Founder Komunitas Makelar Akhirat, Yusdeny Lanasakti, menegaskan bahwa seluruh lubang di sepanjang ruas tersebut ditambal.

“Sepanjang Jalan Cokroaminoto itu kita tembel semua yang berlubang. Prediksi saya sekitar 2,5 kilometer,” ujar Yusdeny saat dikonfirmasi melalui sambungan seluler, Rabu (4/3/2026).

Menurut dia, kerusakan jalan kerap tidak terlihat karena tertutup genangan air. Kondisi itu diperparah minimnya penerangan di sepanjang jalur tersebut, sehingga meningkatkan risiko kecelakaan, terutama pada malam hari.

Yusdeny mengaku pernah menyaksikan langsung kecelakaan yang dipicu lubang jalan. Seorang ibu yang membonceng anaknya terjatuh tepat di hadapannya karena roda kendaraan masuk ke lubang yang tertutup air.

“Saya melihat sendiri ibu-ibu dengan anak kecil, sekitar lima tahun, terjatuh. Lukanya memang tidak fatal, tapi itu membahayakan,” katanya.

Aksi perbaikan dilakukan dengan sistem patungan. Sejumlah anggota menyumbang dana tunai, sementara lainnya menyumbang material seperti batu koral dan kebutuhan teknis lain untuk menutup lubang.

Total dana yang dihimpun dalam aksi tersebut berkisar antara Rp5 juta hingga Rp6 juta. Seluruh pembiayaan murni berasal dari iuran anggota dan simpatisan, tanpa dukungan anggaran pemerintah.

Yusdeny menegaskan langkah ini bukan bentuk ketidakpercayaan terhadap pemerintah daerah. Namun, ia memilih menekankan pentingnya tindakan nyata ketimbang menunggu realisasi program.

“Saya bukan bicara percaya atau tidak percaya. Bagi saya, yang penting tindakan. Karena ini sudah menyangkut keselamatan masyarakat,” ujarnya.

Dia juga mengingatkan bahwa jalan merupakan fasilitas publik yang menjadi tanggung jawab pemerintah. Apalagi, masyarakat telah menunaikan kewajiban membayar pajak yang semestinya kembali dalam bentuk pelayanan dan infrastruktur yang layak.

Menurutnya, apabila terdapat kendala anggaran atau kebijakan efisiensi, pemerintah seharusnya menyampaikan secara terbuka kepada publik.

Transparansi, kata dia, penting untuk mencegah munculnya kekecewaan warga.

“Kalau memang ada masalah, sampaikan ke rakyat. Jangan sampai rakyat merasa diabaikan. Transparansi itu penting,” tegasnya.

Yusdeny turut menyoroti alasan klasik efisiensi anggaran yang kerap muncul dalam berbagai persoalan infrastruktur.

Dia berharap efisiensi tidak berdampak pada fasilitas publik yang berkaitan langsung dengan keselamatan warga.

Komunitas warga berharap aksi ini menjadi pengingat bahwa keselamatan masyarakat harus menjadi prioritas utama.

Mereka mendorong BSBK segera melakukan perbaikan menyeluruh agar kejadian serupa tidak terus berulang di kemudian hari.

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow