Jembatan Darurat Sentong Bondowoso Rusak Dihantam Air Deras Sungai, Picu Kekhawatiran Warga
Jembatan Sentong Nangkaan Bondowoso rusak akibat arus deras dan ditutup sementara, namun warga masih nekat memanjat gerbang demi melintas.
BONDOWOSO - Jembatan darurat Sentong di wilayah Nangkaan, Kecamatan/Kabupaten Bondowoso, mengalami kerusakan setelah diterjang arus air sungai berdebit tinggi.
Peristiwa ini memicu kekhawatiran warga karena jembatan tersebut merupakan akses vital bagi pejalan kaki.
Ketua Panitia Pelaksana Keamanan Pembangunan Jembatan, Lukman Beryl, menjelaskan sejak awal jembatan tersebut memang dirancang sebagai fasilitas sementara hasil kesepakatan antara warga RT 20 Nangkaan dan pemerintah daerah.
“Pembangunan jembatan ini hasil rapat bersama antara warga dan pemerintah, termasuk Asisten I, BPBD, camat, hingga pihak kelurahan. Kami menekankan aspek keamanan sebagai prioritas,” ujar Lukman pada media, Senin (27/04/2026).
Namun, kerusakan terjadi akibat tingginya debit air yang membawa material seperti kayu, bambu, batu, hingga ranting. Akibatnya, bagian kaki jembatan di sisi utara tidak mampu menahan tekanan arus.
“Arus membawa banyak material dan menghantam bagian bawah jembatan. Kaki jembatan yang langsung bersentuhan dengan air akhirnya rusak dan terbawa arus,” jelasnya.
Lukman mengungkapkan, kekhawatiran terkait konstruksi sebenarnya sudah disampaikan sejak awal pada dinas terkait sebelum pelaksanaan pembangunan. Warga menilai posisi kaki jembatan dari kayu kelapa yang langsung menyentuh air berisiko tinggi terhantam arus deras debit air saat hujan.
“Kami sempat menyampaikan kekhawatiran, tapi saat itu dijelaskan pihak dinas bahwa kayu kelapa cukup kuat. Namun kejadian ini membuktikan kekhawatiran warga memang beralasan,” katanya.
Beruntung, saat kejadian tidak ada warga yang melintas sehingga tidak menimbulkan korban jiwa. Setelah insiden, warga langsung melaporkan ke BPBD dan mengimbau masyarakat tidak menggunakan jembatan tersebut.
“Alhamdulillah tidak ada korban. Kami langsung mengimbau warga agar tidak melintas dan segera melapor ke BPBD,” ujarnya.
Sebagai langkah penanganan, jembatan darurat tersebut kini ditutup sementara. Warga diminta menggunakan jembatan utama di sisi timur yang masih dapat dilalui.
“Untuk sementara kami tutup. Warga bisa menggunakan jembatan utama sambil menunggu perbaikan,” tambahnya.
Ia juga menegaskan kondisi jembatan saat ini cukup berbahaya karena mengalami kemiringan akibat pergeseran kaki konstruksi ke arah timur.
“Awalnya lurus, sekarang miring karena kaki jembatan terbawa arus. Ini berisiko jika tetap dilintasi,” tegas Lukman.
Pembangunan jembatan merupakan proyek dari dinas terkait, sementara warga berperan menambah penguat berupa bambu secara swadaya serta memasang papan imbauan keselamatan.
Di akhir pernyataannya, Lukman menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat dan meminta warga bersabar demi keselamatan bersama.
“Kami mohon maaf. Demi keamanan, kami minta warga tidak melintasi jembatan darurat hingga perbaikan selesai,” ujarnya.
Sementara itu, Diana alias Budarmaji, warga sekitar jembatan alternatif, mengungkapkan bahwa akses jembatan sebenarnya telah ditutup dan gerbang sudah dikunci. Namun, masih ada warga yang nekat memanjat pembatas untuk melintas.
Ia mengaku menyaksikan langsung kejadian tersebut pada pagi hari sekitar pukul 05.30 hingga 06.00 WIB dari rumahnya.
“Saya lihat dari pintu rumah, ada orang naik. Saya kaget, kok nekat begitu. Akhirnya saya keluar untuk memastikan,” ujarnya.
Menurut Diana, tindakan tersebut sangat berbahaya mengingat kondisi jembatan sudah miring dan berpotensi ambruk sewaktu-waktu.
“Gerbang itu sudah ditutup, sudah dikunci. Tapi masih ada yang maksa naik,” katanya.
Ia juga tidak mengetahui pasti pelaku yang memanjat pada malam hari, namun pada pagi harinya ia melihat langsung warga mencoba melintas secara paksa.
“Kalau yang malam saya tidak tahu. Tahu-tahu pagi saya lihat ada yang manjat,” imbuhnya.
Diana menilai kondisi ini mengkhawatirkan karena keselamatan warga bisa terancam jika jembatan tetap dipaksakan untuk dilalui.
“Kalau sudah seperti itu jelas khawatir. Apalagi orang masih naik-naik terus,” ungkapnya.
Menurutnya, warga sekitar sebenarnya sudah menyadari risiko tersebut. Namun, masih ada sebagian masyarakat yang nekat melintas meski akses telah ditutup.
Ia juga menyebut sempat terjadi kesalahpahaman antara warga wilayah selatan dengan pihak terkait penutupan jembatan. Masalah tersebut kemudian ditindaklanjuti oleh aparat setempat.
“Waktu itu sudah ditindaklanjuti Pak Babinsa. Jadi hanya kesalahpahaman warga sebelah selatan,” pungkasnya.
What's Your Reaction?