Kukuhkan Forum Pesantren dan Guru Ngaji, Gus Fawait Tegaskan Pesantren Benteng Akhlak dan Mitra Pembangunan Jember

Jun 17, 2026 - 08:52
Jun 17, 2026 - 15:09
 0
Kukuhkan Forum Pesantren dan Guru Ngaji, Gus Fawait Tegaskan Pesantren Benteng Akhlak dan Mitra Pembangunan Jember
Foto Bersama acara pengukuhan Forum Komunikasi Pondok Pesantren dan Guru Ngaji se-Kabupaten Jember

JEMBER – Pemerintah Kabupaten Jember mengukuhkan dan melantik Forum Komunikasi Pondok Pesantren dan Guru Ngaji se-Kabupaten Jember di Pendopo Wahyawibawarga, Selasa (16/6/2026). Forum tersebut dibentuk sebagai wadah memperkuat sinergi antara pemerintah daerah dengan kalangan pesantren dalam mendukung pembangunan sekaligus menjaga nilai-nilai moral masyarakat.

Kegiatan itu dihadiri unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), organisasi perangkat daerah (OPD), komunitas lintas agama, para pengasuh pondok pesantren, serta perwakilan guru ngaji dari berbagai wilayah di Kabupaten Jember.

Dalam sambutannya, Bupati Jember Muhammad Fawait atau Gus Fawait menegaskan bahwa pondok pesantren dan guru ngaji memiliki posisi strategis sebagai benteng akhlak bangsa di tengah berbagai tantangan sosial yang berkembang.

"Benteng utama untuk menjaga akhlak adalah para guru ngaji dan pondok pesantren. Saya masih meyakini inilah benteng utama bangsa," ujar Gus Fawait.

Menurutnya, pembentukan forum tersebut bertujuan memperkuat komunikasi dan koordinasi antara pemerintah daerah dengan pesantren serta guru ngaji agar seluruh program pembangunan dapat menjangkau semua lapisan masyarakat, termasuk kalangan santri.

Gus Fawait menjelaskan, Pemerintah Kabupaten Jember telah merealisasikan pemberian insentif kepada sekitar 21 ribu hingga 22 ribu guru ngaji sebanyak dua kali. Penyaluran pertama dilakukan pada Oktober 2025, sedangkan tahap berikutnya diberikan pada Ramadan 2026.

Selain insentif, pemerintah daerah juga menghadirkan program beasiswa khusus santri sebagai bentuk dukungan terhadap peningkatan kualitas sumber daya manusia berbasis pesantren.

"Insentif ini bukan karena guru ngaji tidak bisa berjalan sendiri, melainkan sebagai bentuk penghargaan pemerintah kepada para guru ngaji yang selama ini mengabdi untuk masyarakat," katanya.

Ia menegaskan bahwa tidak boleh ada jarak atau sekat antara pemerintah daerah dengan kalangan pesantren. Melalui Forum Komunikasi Pondok Pesantren dan Guru Ngaji, seluruh elemen pesantren diharapkan dapat mengakses berbagai program lintas OPD.

Program tersebut mencakup pelatihan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), peningkatan keterampilan tenaga kerja, layanan kesehatan, hingga berbagai program pemberdayaan masyarakat lainnya.

"Di era saya, tidak boleh ada sekat antara guru ngaji dengan OPD dan tidak boleh ada sekat antara pondok pesantren dengan OPD," tegasnya.

Gus Fawait juga menyoroti kontribusi historis pesantren dalam perjalanan bangsa Indonesia. Menurutnya, pesantren merupakan institusi pendidikan yang telah hadir jauh sebelum Indonesia merdeka dan memiliki peran penting dalam perjuangan merebut serta mempertahankan kemerdekaan.

"Pondok pesantren adalah salah satu lembaga pendidikan yang umurnya lebih tua dibanding Republik dan telah berjasa memperjuangkan serta mempertahankan kemerdekaan Indonesia," ujarnya.

Dalam kesempatan tersebut, Gus Fawait turut mengajak kalangan pesantren berpartisipasi aktif dalam menyelesaikan persoalan lingkungan, khususnya pengelolaan sampah. Ia mengungkapkan bahwa Kabupaten Jember akan menerima investasi pengolahan sampah dengan nilai lebih dari Rp1 triliun.

Menurutnya, nilai-nilai kebersihan yang selama ini diajarkan di lingkungan pesantren dapat menjadi modal sosial yang kuat dalam membangun sistem pengelolaan sampah berbasis masyarakat.

"Pesantren sejak dulu mengajarkan bahwa kebersihan adalah sebagian dari iman. Jika sampah dikelola dengan baik, bukan menjadi masalah, tetapi justru menjadi potensi ekonomi," tutup Gus Fawait.

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow