Sulap Limbah Dapur Jadi Nutrisi, Bank Sampah Induk Situbondo Olah Hingga 9 Ton Sampah

Bank Sampah Induk Situbondo mengoptimalkan pengolahan limbah dapur menjadi nutrisi padat dan cair bernilai guna. Program ini tidak hanya menekan volume sampah, tetapi juga mengedukasi masyarakat dan pelajar tentang pentingnya pemilahan sampah.

Apr 21, 2026 - 19:34
Apr 21, 2026 - 20:33
 0
Sulap Limbah Dapur Jadi Nutrisi, Bank Sampah Induk Situbondo Olah Hingga 9 Ton Sampah
Anggota pengelola, Pegang Sak, Proses Pemilahan Sampah lingkungan dan Limbah dapur jadi Nutrisi padat dan Cair untuk Tanaman.

SITUBONDO – Bank Sampah Induk (BSI) binaan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Situbondo terus memaksimalkan penanganan sampah, khususnya yang bersumber dari limbah dapur.

Inovasi yang dilakukan cukup menarik, yakni mengolah limbah organik menjadi nutrisi padat dan cair untuk tanaman.

Pengelolaan ini menyasar berbagai jenis sampah organik dapur, terutama sisa sayuran yang selama ini kerap terbuang tanpa nilai manfaat. Melalui proses pengolahan, limbah tersebut diubah menjadi produk yang memiliki nilai guna tinggi.

Salah satu pengelola BSI, Fery Kuswandi, mengungkapkan bahwa selama ini limbah dapur sering dianggap tidak bernilai. Bahkan, tidak sedikit yang berakhir menjadi sampah berserakan di lingkungan.

“Bisa dipastikan mas, setiap limbah dapur bagi masyarakat dianggap tidak memiliki nilai manfaat,” ungkap Fery, Selasa (21/04/2026).

Ia menjelaskan, proses pengolahan limbah dapur membutuhkan waktu yang bervariasi, mulai dari yang paling singkat hingga mencapai tiga bulan. Lama proses tersebut tergantung pada jenis limbah dan metode pengolahannya.

“Semua limbah dapur sebelum diolah kami pilah terlebih dahulu. Kami bedakan sesuai manfaat dan peruntukannya,” paparnya.

Dalam satu kali proses produksi, BSI mampu mengolah limbah dapur dalam jumlah besar. Bahkan, volume yang dikelola bisa mencapai 3 hingga 4 ton dalam sekali produksi.

“Dalam satu kali pembuatan, kami mengolah beragam limbah dapur hingga 3-4 ton. Ada yang harus dikeringkan lebih dulu, ada juga yang bisa langsung diproses,” jelasnya.

Sementara itu, Direktur BSI, Purwanto, menyampaikan bahwa pengelolaan limbah telah tersebar di beberapa bank sampah di berbagai kecamatan.

Namun, untuk pengolahan limbah menjadi nutrisi cair, saat ini difokuskan di Bank Sampah Induk yang berada di wilayah Sumber Kolak, Panarukan.

“Pengolahan dan pemilahan limbah sudah berjalan di beberapa bank sampah. Namun untuk nutrisi cair, saat ini terpusat di BSI,” ujarnya.

Purwanto, menambahkan bahwa dalam dua bulan terakhir pihaknya telah berhasil mengelola hingga 9 ton sampah.

“Dari total sampah yang kami kelola mencapai 9 ton. Setelah dipilah, sebagian limbah dapur kami olah menjadi nutrisi cair dan padat,” katanya.

Tidak hanya fokus pada pengolahan, BSI juga aktif melakukan edukasi kepada masyarakat, khususnya pelajar. Edukasi tersebut menekankan pentingnya memilah sampah organik, anorganik, dan limbah B3.

Pelajar juga diajak langsung untuk belajar membuat nutrisi dari limbah dapur. Hal ini menjadi bagian dari upaya membangun kesadaran lingkungan sejak dini.

“Selain tim di BSI, kami juga mengajak anak-anak pelajar untuk ikut serta. Mereka kami ajarkan cara membuat nutrisi padat dan cair,” jelas Purwanto.

Menariknya, hasil olahan nutrisi cair tersebut langsung dimanfaatkan untuk tanaman dan sayuran yang ada di lingkungan BSI.

Program ini diharapkan mampu menjadi solusi konkret dalam menjawab persoalan sampah lingkungan, khususnya limbah dapur yang selama ini kurang terkelola.

Dengan inovasi tersebut, BSI Situbondo tidak hanya mengurangi beban sampah, tetapi juga menciptakan nilai ekonomi dan manfaat ekologis bagi masyarakat.

Penulis: Khairul

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow