Zainal Abidin Menang Dramatis, Konferensi PGRI Aceh Singkil Diwarnai Kritik Tajam

Konferensi ke-23 PGRI Aceh Singkil menetapkan Zainal Abidin Simatupang sebagai ketua baru periode 2026-2029. Forum organisasi guru tersebut sempat diwarnai kritik terhadap laporan pertanggungjawaban pengurus lama dan pembahasan AD/ART sebelum akhirnya pemilihan berlangsung demokratis.

May 10, 2026 - 15:24
 0
Zainal Abidin Menang Dramatis, Konferensi PGRI Aceh Singkil Diwarnai Kritik Tajam
PGRI Aceh Singkil Tetapkan Ketua Baru, Forum Sempat Soroti Minimnya Program Organisasi

ACEH SINGKIL — Konferensi ke-23 Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Kabupaten Aceh Singkil yang digelar di Aula Kodim 0109 Aceh Singkil, Kecamatan Singkil Utara, Sabtu (9/5), menetapkan Zainal Abidin Simatupang sebagai Ketua PGRI Aceh Singkil periode 2026–2029. Proses pemilihan berlangsung dinamis dan sempat diwarnai kritik organisasi sebelum akhirnya forum menyepakati hasil pemungutan suara.

Konferensi yang mengusung tema “Transformasi PGRI Menuju Indonesia Emas” itu dihadiri ratusan guru dari berbagai jenjang pendidikan, pengurus organisasi, serta unsur Forkopimda Aceh Singkil. Kegiatan dibuka oleh Bupati Aceh Singkil yang diwakili Asisten II Setdakab Aceh Singkil, Faisal, S.Pd.

Momentum konferensi kali ini tidak hanya menjadi agenda pergantian kepemimpinan organisasi guru terbesar di Aceh Singkil, tetapi juga menjadi ruang evaluasi terhadap arah perjuangan PGRI dalam menghadapi tantangan pendidikan menuju Indonesia Emas 2045.

Ketua PGRI Aceh Singkil sebelumnya, M. Nazur, MM mengatakan tema konferensi menegaskan pentingnya peran strategis guru dalam mencetak sumber daya manusia unggul dan berdaya saing.

“Guru memiliki posisi penting dalam menciptakan generasi yang berkualitas dan berdaya saing,” ujar Nazur dalam sambutannya.

Menurutnya, tantangan dunia pendidikan saat ini menuntut organisasi profesi guru untuk terus bertransformasi dan memperkuat solidaritas internal agar mampu menjawab perubahan zaman.

Sementara itu, Asisten II Setdakab Aceh Singkil, Faisal, menegaskan pembangunan daerah tidak bisa dipisahkan dari kualitas pendidikan. Karena itu, peran guru menjadi faktor utama dalam menentukan arah masa depan generasi bangsa.

“Ketika berbicara pembangunan, maka kita berbicara pendidikan. Ketika berbicara pendidikan, maka kita berbicara guru. Karena itu, PGRI harus terus berkolaborasi dengan pemerintah dalam memajukan pendidikan,” kata Faisal.

Ia menilai transformasi pendidikan tidak akan berjalan tanpa guru yang profesional, inovatif, dan mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi serta perubahan sosial masyarakat.

Menurut Faisal, guru tidak hanya memiliki tanggung jawab mengajar di ruang kelas, tetapi juga membentuk karakter dan moral generasi muda di tengah tantangan era digital yang semakin kompleks.

Karena itu, ia berharap PGRI Aceh Singkil mampu melahirkan pendidik yang berkualitas, berintegritas, dan memiliki semangat pembaruan dalam dunia pendidikan.

“Kami berharap PGRI menjadi mitra strategis pemerintah dalam meningkatkan mutu pendidikan dan kualitas sumber daya manusia di Aceh Singkil,” ujarnya.

Konferensi tersebut juga dihadiri Ketua PGRI Aceh, Bahtiar, bersama M. Hanafia. Dalam sambutannya, Bahtiar menyebut konferensi merupakan agenda penting organisasi untuk memperkuat soliditas internal sekaligus menentukan arah perjuangan PGRI ke depan.

Ia meminta seluruh peserta menjaga suasana demokratis dan menjunjung tinggi nilai kebersamaan selama proses pemilihan berlangsung.

“Saya berharap proses pemilihan berjalan demokratis dan tetap menjunjung tinggi nilai kebersamaan,” kata Bahtiar.

Pemilihan Ketua PGRI Aceh Singkil awalnya diikuti tiga kandidat, yakni Zainal Abidin Simatupang, Ahmad Akbar, dan Indra Ardi.

Namun dinamika mulai terlihat ketika Indra Ardi yang juga menjadi panitia penjaringan calon memutuskan mengundurkan diri saat penyampaian pernyataan kesediaan calon ketua.

Pengunduran diri tersebut membuat kontestasi hanya menyisakan dua kandidat, yakni Zainal Abidin Simatupang dan Ahmad Akbar.

Proses pemungutan suara berlangsung cukup ketat. Masing-masing kandidat mendapat dukungan dari peserta konferensi yang berasal dari berbagai kecamatan dan jenjang pendidikan di Aceh Singkil.

Berdasarkan hasil penghitungan suara, Zainal Abidin berhasil memperoleh 19 suara, sedangkan Ahmad Akbar meraih 14 suara.

Dengan hasil itu, Zainal Abidin resmi ditetapkan sebagai Ketua PGRI Aceh Singkil periode 2026–2029.

Usai penetapan ketua terpilih, konferensi dilanjutkan dengan sidang tim formatur untuk menyusun kepengurusan baru organisasi.

Dalam sidang tersebut, Purwati Ginting ditetapkan sebagai Wakil Ketua I, Syafriadi sebagai Wakil Ketua II, Rusman sebagai Wakil Ketua III, dan Suriadi dipercaya menjabat Sekretaris PGRI Aceh Singkil.

Meski seluruh tahapan pemilihan akhirnya berjalan lancar, konferensi sempat diwarnai kritik tajam dari peserta terkait laporan pertanggungjawaban kepengurusan sebelumnya.

Salah seorang peserta forum mempertanyakan kinerja organisasi yang dinilai belum maksimal selama periode kepengurusan sebelumnya.

Peserta tersebut menyoroti tidak adanya rapat komisi dalam konferensi yang menurutnya berdampak pada minimnya rekomendasi organisasi, program kerja, hingga kebijakan pendidikan yang dihasilkan PGRI.

“Kami mohon kepada pimpinan sidang agar hal ini dicermati. Kami tidak memaksakan, tetapi ini bagian dari tanggung jawab organisasi,” ujar salah seorang peserta dalam forum sidang.

Kritik itu memunculkan perdebatan di dalam forum. Sejumlah peserta meminta agar mekanisme organisasi dijalankan sesuai aturan agar hasil konferensi memiliki legitimasi kuat.

Selain mempertanyakan laporan pertanggungjawaban, peserta juga meminta pimpinan sidang membacakan AD/ART organisasi terkait syarat pencalonan Ketua PGRI periode 2026–2029.

Permintaan tersebut disampaikan agar proses pemilihan berjalan transparan dan sesuai aturan organisasi.

Situasi forum sempat memanas ketika beberapa peserta memberikan pandangan berbeda mengenai mekanisme sidang dan tahapan pemilihan.

Namun pimpinan sidang akhirnya mampu mengendalikan jalannya forum sehingga konferensi tetap berjalan hingga seluruh tahapan selesai dilaksanakan.

Dinamika yang terjadi dalam konferensi itu dinilai menjadi gambaran meningkatnya perhatian anggota terhadap tata kelola organisasi dan arah perjuangan PGRI di Aceh Singkil.

Sejumlah peserta berharap kepengurusan baru mampu membawa perubahan nyata, memperkuat advokasi terhadap kesejahteraan guru, serta aktif mendorong peningkatan mutu pendidikan daerah.

Kepemimpinan baru PGRI Aceh Singkil juga diharapkan dapat mempererat hubungan organisasi dengan pemerintah daerah dan seluruh pemangku kepentingan pendidikan.

Di tengah tantangan transformasi pendidikan nasional, PGRI dinilai memiliki peran penting sebagai wadah perjuangan guru dalam meningkatkan kualitas pendidikan sekaligus menjaga profesionalisme tenaga pendidik.

Konferensi ke-23 PGRI Aceh Singkil pun menjadi momentum penting untuk memperkuat konsolidasi organisasi sekaligus mempertegas komitmen guru dalam mendukung pembangunan sumber daya manusia menuju Indonesia Emas 2045.

Penulis : Gusti

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow