Banjir Terparah dalam Satu Dekade, Pemkab Jember bersama DPUBM Jatim Petakan Kerusakan Jembatan dan Infrastruktur Vital
KABAR RAKYAT, JEMBER - Banjir besar yang melanda Kabupaten Jember akibat curah hujan ekstrem, dinilai sebagai salah satu bencana terparah dalam lebih dari satu dekade terakhir.
Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Jember bersama Dinas PU Bina Marga (DPUBM) Provinsi Jawa Timur melakukan pemetaan kerusakan jembatan dan infrastruktur vital, guna mempercepat proses pemulihan.
Penjabat Sekretaris Daerah Kabupaten Jember, Akhmad Helmi Luqman, memimpin langsung peninjauan lapangan bersama Satgas Infrastruktur dan Tata Ruang Minggu, (15/2/2026).
Sejumlah jembatan yang mengalami kerusakan serius akibat terjangan banjir menjadi fokus utama, di antaranya Jembatan Cinta di Desa Jubung Kecamatan Sukorambi, Jembatan Merah Putih di Desa Pakis Kecamatan Panti, serta Jembatan Sentool di Desa Suci Kecamatan Panti.
Menurut Helmi, tingginya intensitas hujan yang terjadi dalam beberapa hari terakhir berdampak luas pada permukiman warga dan fasilitas publik.
Data sementara mencatat lebih dari 7.000 kepala keluarga terdampak banjir di berbagai kecamatan.
“Bencana kali ini skalanya cukup besar dan dampaknya merata. Karena itu, kami memetakan seluruh kerusakan, mulai dari infrastruktur desa, kabupaten, hingga provinsi untuk menentukan prioritas penanganan,” tegas Helmi.
Ia menambahkan, sejumlah infrastruktur strategis mengalami kerusakan berat dan membutuhkan penanganan segera, agar aktivitas masyarakat dapat kembali normal.
Pemkab Jember pun terus berkoordinasi dengan Pemerintah Provinsi Jawa Timur untuk percepatan perbaikan, khususnya pada jembatan penghubung antarwilayah.
Seiring dengan peringatan cuaca ekstrem lanjutan dari BMKG, Pemerintah Kabupaten Jember menetapkan status siaga darurat bencana hingga 26 Februari 2026.
Sementara itu, Kepala Dinas PU Bina Marga Provinsi Jawa Timur, Edy Tambeng Widjaja, menyampaikan, pihaknya tengah melakukan kajian teknis mendalam terhadap tingkat kerusakan jembatan.
Ia menjelaskan, sebagian besar kerusakan disebabkan oleh debit air yang melampaui kapasitas desain bangunan.
“Posisi rata-rata jembatan relatif rendah. Saat hujan turun dengan durasi panjang dan intensitas tinggi, debit air meningkat drastis hingga terjadi limpasan melewati lantai jembatan, kemudian menyeret konstruksi,” jelasnya.
Sebagai bahan evaluasi ke depan, DPUBM Jatim mempertimbangkan peninggian elevasi jembatan pada proses pembangunan kembali, guna mengurangi risiko kerusakan serupa di tengah cuaca yang semakin sulit diprediksi.
“Kami masih melakukan pengecekan detail di lapangan. Jika ada komponen yang harus diganti, akan segera kami tindaklanjuti. Setelah data lengkap, hasilnya kami laporkan kepada Gubernur Jawa Timur untuk langkah eksekusi selanjutnya,” pungkas Edy. (Rok)
What's Your Reaction?