Diantara Jeda, Seniman Bangkalan Merawat Asa di Tengah Keterbatasan Ruang
Pameran seni rupa “Diantara Jeda” menjadi penanda kebangkitan seniman Bangkalan setelah vakum dua tahun. Melalui kolaborasi dengan Cafe FAFA, para perupa menyuarakan kegelisahan sekaligus harapan akan hadirnya ruang seni yang layak di Kabupaten Bangkalan
KABAR RAKYAT,BANGKALAN – Di sudut sebuah kafe sederhana di jantung Kota Bangkalan, kanvas-kanvas bergantung tenang. Warna, garis, dan ekspresi bertemu dalam satu ruang bernama “Diantara Jeda”. Pameran seni rupa ini bukan sekadar ajang memajang karya, tetapi juga menjadi penanda kerinduan panjang para seniman Bangkalan akan ruang berekspresi yang selama ini terasa absen.
Juhari, salah satu seniman Bangkalan, berdiri di antara karya-karya itu dengan perasaan campur aduk. Di sela pameran yang digelar Komunitas Seni Rupa Bangkalan (SERUBA) pada 8–10 Februari 2026, ia mengungkapkan kegelisahan lama yang hingga kini belum terjawab: Bangkalan belum memiliki gedung seni.
“Selama ini kami berkarya, tapi ruangnya selalu berpindah-pindah. Bangkalan belum punya gedung seni yang benar-benar bisa menjadi rumah bagi para seniman,” ujar Juhari saat ditemui di sela pameran yang berkolaborasi dengan Cafe FAFA Bangkalan.
Pameran ini menjadi momen istimewa. Setelah dua tahun vakum, SERUBA kembali menghadirkan karya para pelukis dan fotografer dari beragam aliran. Setiap lukisan seolah menjadi catatan perjalanan, memotret kegelisahan, harapan, dan identitas para perupanya.
Tak hanya orang dewasa, anak-anak dari berbagai jenjang pendidikan turut meramaikan ruang pamer. Mereka mengikuti kegiatan melukis bersama, menuangkan imajinasi bebas di atas kanvas. Riuh tawa dan sapuan warna itu menghadirkan energi baru, seolah menegaskan bahwa seni masih memiliki masa depan di Bangkalan.
Ketua SERUBA, Edi Susanto, menyebut pameran ini sebagai tanda kebangkitan komunitas seni rupa di Bangkalan setelah terakhir kali menggelar pameran berskala nasional pada 2024.
“Kami memulai kembali dari skala kabupaten. Ini langkah awal untuk menghidupkan lagi seni rupa di Bangkalan yang belakangan mulai kurang diminati,” kata Edi.
Menurutnya, Bangkalan memiliki banyak pelukis dengan karya yang berkualitas dan orisinal. Namun, keterbatasan sarana dan prasarana menjadi tembok besar yang sulit ditembus para seniman.
“Harapan kami sederhana, setahun sekali ada pameran rutin dan suatu saat Bangkalan memiliki galeri seni yang representatif. Saya bahkan bermimpi Bangkalan bisa menjadi kota seni seperti Yogyakarta atau Bali, karena potensinya sangat besar,” ucapnya optimistis.
Apresiasi juga datang dari pengunjung. Fathur Rahman Said, tokoh masyarakat Bangkalan, menilai pameran seni seperti ini memiliki peran penting bagi kesehatan batin para seniman sekaligus bagi masyarakat.
“Pameran seni adalah ruang kebebasan. Di sinilah perasaan yang terpendam bisa dilepaskan dan diterjemahkan menjadi karya di atas kanvas,” tutur Fathur Rahman.
Ia berharap pemerintah daerah dapat memberikan dukungan nyata. Menurutnya, banyak seniman yang memiliki kemampuan, tetapi kesulitan mencari ruang untuk berkarya dan memamerkan hasil karyanya.
“Cukup dengan menyediakan gedung pertunjukan atau galeri seni. Revitalisasi ruang publik menjadi kantong-kantong seni saja sudah bisa membangkitkan semangat para pelukis,” jelasnya.
Di sisi lain, Hendra Gema Dominan, S.Sn, Sekretaris Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Bangkalan, mengakui keterbatasan anggaran menjadi tantangan utama. Ia mendorong para pelaku seni untuk lebih mandiri dan tidak sepenuhnya bergantung pada bantuan pemerintah.
“Kami sangat mengapresiasi pameran ini. Namun dengan anggaran yang terbatas dan banyaknya agenda, tentu tidak mudah. Salah satu solusi yang bisa dilakukan adalah kolaborasi dengan kegiatan rutin seperti tera’ bulan,” kata Hendra.
Sebagai alternatif ruang pamer, ia menyebut area belakang Museum Cakraningrat dapat dimanfaatkan sementara untuk memajang karya seni. Lebih jauh, Hendra mengungkapkan rencana mempertemukan para pelaku seni dengan Bupati Bangkalan.
“Dalam waktu dekat kami akan mengagendakan pertemuan dengan Bupati, agar para seniman bisa diperkenalkan secara langsung. Harapannya, ke depan ada penganggaran khusus sehingga gedung seni di Bangkalan benar-benar bisa terwujud,” pungkasnya.
Di tengah jeda yang panjang, pameran ini menjadi isyarat bahwa denyut seni di Bangkalan belum padam. Ia hanya menunggu ruang untuk tumbuh dan dipercaya.
Penulis: Luhur Utomo
What's Your Reaction?