SPPG Pujer Siapkan Menu Khusus untuk Siswa SDN Mangli yang Tidak Bisa Konsumsi Nasi

Sebelum ada menu pengganti, selama kurang lebih enam bulan siswa tersebut hanya mengonsumsi lauk dan buah, sementara nasi tidak dimakan dan kadang diberikan kepada temannya.

Feb 12, 2026 - 15:22
Feb 12, 2026 - 15:23
 0
SPPG Pujer Siapkan Menu Khusus untuk Siswa SDN Mangli yang Tidak Bisa Konsumsi Nasi
Menu khusus (kiri) untuk siswa SDN Mangli yang terindikasi alergi nasi

KABAR RAKYAT, BONDOWOSO – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di SDN Mangli mendapat perhatian khusus setelah ditemukan seorang siswa kelas 4 yang sejak kecil tidak bisa mengonsumsi nasi.

Menindaklanjuti kondisi tersebut, Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Mangli langsung menyiapkan menu pengganti agar kebutuhan gizi siswa tetap terpenuhi.

Koordinator MBG SDN Mangli, Purnomo Sulistio, menjelaskan bahwa siswa tersebut setiap kali mengonsumsi nasi selalu mengalami muntah.

“Anak ini memang sejak kecil tidak bisa makan nasi. Setiap makan nasi langsung muntah. Jadi bukan tidak mau, tapi memang tidak bisa,” ujarnya, Kamis (12/2/2026).

Mengetahui kondisi itu, pihak sekolah tidak langsung mengambil keputusan, melainkan terlebih dahulu berkoordinasi dengan orang tua siswa.

“Kami komunikasi dulu dengan wali murid, anak ini tidak bisa makan apa. Ternyata hanya nasi. Setelah itu kami laporkan ke SPPG Mangli,” jelasnya.

Respons cepat pun diberikan. SPPG Mangli kemudian menyediakan menu khusus pengganti karbohidrat, seperti kentang, mie, roti, atau bihun.

“Alhamdulillah langsung ada perhatian. Sekarang dibuatkan menu khusus. Hari ini pengganti karbohidratnya kentang, sedangkan lauk dan buah tetap sama,” tambah Purnomo.

Sebelum ada menu pengganti, selama kurang lebih enam bulan siswa tersebut hanya mengonsumsi lauk dan buah, sementara nasi tidak dimakan dan kadang diberikan kepada temannya.

“Sekarang Alhamdulillah anaknya sudah mau makan karena ada penggantinya,” katanya.

Ahli Gizi SPPG Mangli, Fajar Adimi Nofantara, menegaskan bahwa dalam pelaksanaan MBG, pihaknya selalu membedakan antara anak yang alergi makanan dan yang tidak mau makan.

“Itu harus diproses dulu, ini alergi atau hanya tidak mau. Karena beda penanganannya. Kalau alergi, biasanya muncul reaksi seperti gatal, mual, atau gangguan lainnya,” jelas Fajar.

Jika terbukti alergi atau tidak bisa mengonsumsi bahan tertentu, SPPG akan mengganti dengan bahan lain yang memiliki kandungan gizi setara.

“Kalau alergi ayam, kita ganti telur. Kalau alergi telur, kita ganti ayam. Kalau tidak bisa nasi, kita ganti dengan kentang, mie, bihun, atau roti. Intinya kebutuhan karbohidrat tetap terpenuhi,” terangnya.

Saat ini, SPPG Mangli melayani sekitar 2.995 siswa dengan busui. Dari jumlah tersebut, tercatat beberapa siswa memiliki kebutuhan khusus.

“Data terakhir ada dua siswa alergi telur dan satu siswa yang tidak bisa makan nasi. Yang alergi telur ada di TK Tunas Harapan,” ungkapnya.

Fajar menambahkan, SPPG telah memiliki basis data siswa dengan kondisi khusus, sehingga bisa segera menyesuaikan menu setelah ada laporan dari sekolah.

“Kami selalu konfirmasi ke wali murid dan didampingi guru. Jadi penanganannya jelas dan aman,” ujarnya.

Ia juga menyebutkan, ada kasus siswa yang awalnya tidak mau makan nasi namun bukan karena alergi. Dengan pendampingan guru dan persetujuan orang tua, anak tersebut akhirnya bisa beradaptasi.

Kasus di SDN Mangli ini menunjukkan bahwa pelaksanaan MBG tidak hanya fokus pada pembagian makanan, tetapi juga memperhatikan kondisi individual siswa. Kolaborasi antara sekolah, orang tua, dan SPPG menjadi kunci agar setiap anak tetap mendapatkan asupan gizi yang sesuai dan aman.

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow