Inovasi Geospasial Bangkalan Dilirik Pusat, Berpeluang Jadi Percontohan Nasional Pertanian Modern

Inovasi geospasial lahan pertanian yang dikembangkan DP2KP Kabupaten Bangkalan mendapat apresiasi dari Kemenko Pangan dan berpeluang menjadi proyek percontohan nasional. Teknologi ini dinilai mampu meningkatkan akurasi data pertanian, menjaga lahan produktif, serta mendukung program ketahanan pangan Indonesia.

Jun 24, 2026 - 22:22
 0
Inovasi Geospasial Bangkalan Dilirik Pusat, Berpeluang Jadi Percontohan Nasional Pertanian Modern
DP2KP Bangkalan Ciptakan Inovasi Geospasial, Diproyeksikan Jadi Model Pertanian Nasional

BANGKALAN – Terobosan digital yang dikembangkan Dinas Pertanian, Pangan, Perikanan dan Ketahanan Pangan (DP2KP) Kabupaten Bangkalan menarik perhatian pemerintah pusat.

Inovasi berbasis teknologi geospasial yang digunakan untuk memetakan dan mengelola lahan pertanian dinilai memiliki nilai strategis dalam mendukung ketahanan pangan nasional dan berpotensi dijadikan proyek percontohan di seluruh Indonesia.

Pengakuan tersebut disampaikan langsung oleh Deputi Bidang Koordinasi Usaha Pangan dan Pertanian Kementerian Koordinator Bidang Pangan, Widiastuti, saat menghadiri kegiatan Rembuk Tani bersama Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Kecamatan Burneh, Selasa (23/6/2026).

Di hadapan para petani dan pemangku kepentingan sektor pertanian, Widiastuti mengaku terkejut sekaligus mengapresiasi inovasi yang telah dikembangkan Pemerintah Kabupaten Bangkalan melalui DP2KP.

"Saya kaget dan sangat mengapresiasi inovasi yang dilakukan DP2KP Kabupaten Bangkalan ini. Baru sekarang saya mengetahuinya dan menurut saya sangat layak dijadikan percontohan bagi kabupaten dan kota lain di Indonesia," ujarnya.

Teknologi geospasial tersebut memungkinkan pemerintah memperoleh data pertanian yang lebih akurat dan terintegrasi, mulai dari luas lahan, kondisi tanah, pola tanam, hingga potensi produktivitas di setiap wilayah.

Dengan dukungan sistem pemetaan digital, pemerintah daerah tidak lagi bergantung pada data manual yang rentan mengalami perbedaan di lapangan. Sebaliknya, seluruh informasi dapat dipantau secara lebih presisi sehingga membantu proses perencanaan dan pengambilan kebijakan.

Salah satu keunggulan utama sistem ini adalah kemampuannya mendeteksi perubahan fungsi lahan secara cepat. Kemampuan tersebut dinilai sangat penting untuk menjaga keberlangsungan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan (LP2B) di tengah tingginya tekanan alih fungsi lahan akibat pembangunan dan ekspansi kawasan industri.

Kepala DP2KP Kabupaten Bangkalan, Dr. CHK Karyadinata, menjelaskan bahwa penerapan teknologi geospasial merupakan bagian dari modernisasi sektor pertanian yang menjadi prioritas pemerintah daerah.

Menurutnya, keberadaan data yang valid dan terintegrasi menjadi fondasi penting dalam pembangunan pertanian yang berkelanjutan.

"Keberadaan data yang valid dan terintegrasi menjadi kunci keberhasilan pembangunan sektor pertanian. Dengan sistem geospasial, kita dapat mengetahui kondisi riil di lapangan sehingga kebijakan yang diambil benar-benar sesuai kebutuhan petani," katanya.

Melalui sistem tersebut, pemerintah dapat melakukan pemantauan secara real time terhadap kondisi lahan, distribusi program pertanian, hingga efektivitas berbagai bantuan yang diberikan kepada petani.

Pemerintah pusat yang tengah mengevaluasi berbagai program digitalisasi pertanian menilai inovasi Bangkalan memiliki potensi besar untuk direplikasi secara nasional. Selain meningkatkan akurasi data, sistem ini juga dianggap mampu memperkuat strategi pemerintah dalam menjaga ketahanan pangan nasional.

Manfaat inovasi tersebut mulai dirasakan langsung oleh petani. Informasi mengenai pola tanam, kebutuhan pupuk, hingga estimasi hasil panen kini dapat dipetakan lebih akurat sehingga membantu meningkatkan efisiensi usaha tani.

Dampaknya terlihat pada peningkatan hasil panen gabah dan kualitas produksi yang lebih baik dibandingkan sebelumnya. Kondisi tersebut turut mendorong kenaikan harga jual gabah di tingkat petani.

Jika sebelumnya gabah hanya dihargai sekitar Rp4.500 per kilogram, kini harga jualnya berkisar antara Rp6.500 hingga Rp7.500 per kilogram, tergantung kualitas hasil panen.

Pemerintah Kabupaten Bangkalan menyambut positif rencana pemerintah pusat yang akan menjadikan inovasi geospasial tersebut sebagai model nasional. Selain menjadi bentuk pengakuan atas inovasi daerah, langkah itu juga diharapkan mampu mempercepat transformasi digital sektor pertanian di berbagai wilayah Indonesia.

Di tengah tantangan ketahanan pangan dan semakin menyusutnya lahan produktif, inovasi geospasial yang dikembangkan DP2KP Bangkalan menjadi bukti bahwa modernisasi pertanian tidak hanya bergantung pada alat dan mesin, tetapi juga pada kualitas data yang menjadi dasar pengambilan keputusan.

Jika diterapkan secara luas, sistem ini diyakini dapat menjadi instrumen penting dalam mewujudkan pertanian modern, berkelanjutan, dan berbasis teknologi sekaligus memperkuat kedaulatan pangan Indonesia di masa depan.

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow