Kisah Pilu Nenek Rahmatil, Dapur Roboh Tertimpa Pohon Saat Siapkan Buka Puasa

Kisah pilu seorang nenek sebatang kara di Desa Sletreng, Kapongan, Situbondo, yang dapurnya hancur tertimpa pohon mangga akibat angin puting beliung saat menyiapkan menu buka puasa. Nenek Rahmatil Maula kini berharap bantuan untuk membangun kembali dapur sederhana miliknya.

Mar 10, 2026 - 10:57
 0
Kisah Pilu Nenek Rahmatil, Dapur Roboh Tertimpa Pohon Saat Siapkan Buka Puasa
Kondisi dapur milik Rahmatil Maula, seorang nenek yang tinggal sebatang kara di Desa Sletreng, Kecamatan Kapongan, Situbondo, yang rusak parah setelah tertimpa pohon mangga akibat angin puting beliung. Puing-puing kayu dan potongan batang pohon masih berserakan di sekitar lokasi, sementara dapur sederhana yang biasa digunakan memasak kini hampir rata dengan tanah

KABAR RAKYAT,SITUBONDO – Musibah datang tanpa diduga bagi Rahmatil Maula, seorang nenek yang hidup sebatang kara di Desa Sletreng, Kecamatan Kapongan, Kabupaten Situbondo. Dapur sederhana miliknya rusak parah hampir rata dengan tanah setelah tertimpa pohon mangga yang tumbang akibat angin puting beliung pada Sabtu sore (7/3/2026).

Peristiwa itu terjadi saat Rahmatil hendak menyiapkan menu berbuka puasa. Sore itu, angin kencang sudah terasa sejak lama, namun ia tetap berniat menuju dapur untuk mengambil cobek yang akan digunakan membuat sambal.

“Saya waktu itu sudah pakai sandal mau ke dapur ambil cobek buat bikin sambal. Tiba-tiba terdengar suara keras, pohon mangga langsung menghantam dapur saya,” tutur Rahmatil saat ditemui di rumahnya, Selasa (10/3/2026).

Nenek yang lahir pada awal 1950-an itu mengaku hanya bisa terdiam melihat dapurnya ambruk seketika. Bangunan kayu yang selama ini menjadi tempatnya memasak itu tak mampu menahan beban batang pohon mangga yang tumbang diterpa angin.

Selama dua hari sejak dapurnya rusak, Rahmatil mengaku tetap bertahan di rumahnya. Ia bersyukur masih ada tetangga yang peduli dengan mengirimkan makanan, terutama saat waktu berbuka puasa hingga sahur.

Menurut Rahmatil, dapur kayu tersebut memiliki nilai kenangan tersendiri baginya. Ia membangun dapur itu sekitar tiga tahun lalu dari hasil menjual anak kambing yang selama ini digembalakannya sendiri.

“Bule (saya) bangun dapur itu dari hasil jual anak kambing yang saya gembala sendiri sekitar tiga tahun lalu,” ujarnya dengan mata berkaca-kaca.

Musibah yang menimpanya juga menyisakan rasa kecewa. Rahmatil mengaku hingga dua hari setelah kejadian belum ada pihak pemerintah setempat yang datang melihat kondisinya.

Ia bahkan harus membersihkan puing-puing dapur bersama tetangga dan kerabatnya yang datang dari Desa Bajuran. Proses pemotongan pohon yang menimpa dapurnya juga dilakukan secara swadaya oleh warga sekitar.

“Tidak ada sama sekali orang pemerintah yang datang ke sini. Dua hari ini saya tidak meninggalkan halaman rumah, sambil sedikit-sedikit mengambil peralatan dapur yang masih bisa diselamatkan,” ungkapnya.

Pantauan di lokasi menunjukkan kondisi dapur Rahmatil masih rusak parah. Potongan batang pohon mangga dan puing-puing kayu dapur masih berserakan di halaman rumahnya.

Meski tertimpa musibah, Rahmatil tetap bersyukur karena rumah utama tempat ia beristirahat tidak ikut tertimpa pohon. Namun dapur kayu yang selama ini menjadi tempatnya memasak sudah tidak bisa lagi digunakan.

Dengan suara lirih, Rahmatil hanya berharap suatu hari mendapat rezeki agar bisa kembali membangun dapur sederhana miliknya.

“Harapan saya semoga segera dapat rezeki supaya bisa membangun dapur kayu sederhana ini lagi,” tuturnya penuh harap.

Penulis: Khairul

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow