Lawan Mitos Mistis, Pemuda Situbondo Sukses Tanam 160 Jenis Anggur
Seorang pemuda di Situbondo berhasil menepis mitos menanam anggur yang dianggap membawa sial.
KABAR RAKYAT, SITUBONDO – Mitos lama yang menyebut menanam anggur bisa mendatangkan makhluk halus dan membuat pemilik rumah berumur pendek ternyata tidak menyurutkan langkah seorang pemuda di Kabupaten Situbondo.
Justru sebaliknya, ia membuktikan bahwa tanaman anggur dapat tumbuh subur dengan menanam hingga 160 varietas, mulai dari jenis lokal hingga impor.
Pemuda tersebut adalah Purwanto, warga Kelurahan Dawuhan, Kecamatan Situbondo. Ia mengembangkan berbagai varietas anggur di sebuah green house yang berada di lahan depan rumahnya.
Purwanto mengaku, awal mula ketertarikannya menanam anggur justru berangkat dari cerita-cerita yang beredar di masyarakat mengenai mitos tanaman anggur.
“Berawal dari cerita orang-orang terdahulu, yang bilang kalau menanam anggur itu disukai jin atau keluarganya ada yang meninggal. Dari cerita itu saya sebagai pemuda ingin membuktikan apakah mitos tersebut benar atau tidak,” ujar Purwanto.
Ia kemudian mulai menanam berbagai jenis anggur secara bertahap. Awalnya dari varietas lokal yang berasal dari Kediri, kemudian berkembang hingga menanam berbagai varietas impor dari sejumlah negara.
Menurut Purwanto, kini koleksi tanaman anggurnya mencapai sekitar 160 varietas yang berasal dari berbagai negara seperti Australia, Amerika, Ukraina, Jepang hingga India.
“Kita mulai dari jenis lokal Kediri, kemudian dikembangkan ke varietas impor. Kami ingin membuktikan tanaman impor juga bisa berbuah di sini dan siklus berbuahnya tidak pernah berhenti selama dirawat dengan benar,” jelasnya.
Purwanto mengatakan, mitos mengenai tanaman anggur sudah ia dengar sejak kecil. Bahkan, masyarakat sekitar sering mengaitkan tanaman anggur di halaman rumah dengan hal-hal mistis.
“Saya dengar mitos itu sejak kecil dan masih terngiang sampai sekarang. Katanya kalau menanam anggur di depan rumah bisa jadi tempat favorit makhluk halus dan membuat pemiliknya cepat meninggal,” tuturnya.
Namun setelah mencoba menanam sendiri, Purwanto justru membuktikan bahwa anggapan tersebut tidak benar. Tanaman anggur yang ia rawat tumbuh subur dan bahkan menjadi peluang usaha.
“Alhamdulillah sampai sekarang mitos itu tidak terbukti. Justru saya bisa menanam banyak varietas anggur bahkan sampai menjadi pedagang bibit,” katanya.
Dari ratusan varietas anggur yang ia koleksi, Purwanto mengaku ada puluhan jenis yang paling banyak diminati masyarakat untuk ditanam di wilayah Situbondo.
Beberapa di antaranya adalah varietas Akademik, Andre 53, Anyuta, Ara 15, Baiqonur, Basanti, Beauty Krasotka, Canival, Diamond Muscat, Dixion, Donetsky Ogonyok, Dubosky Pink, Everest, Gosv, Heliodor, Ilaria, Laura, Kyoho, Kupidon, Jupiter, Messenger, Mondrop, Montidor, Muscat Medovy, Natali, Red Rose, Queen Nina, Portugis, Oscar, Ninel, Saffron, Sansekerta, Shine Muscat, Swallow, Taldun, Tamaki hingga Veles.
Menurut Purwanto, setidaknya ada sekitar 44 varietas yang paling direkomendasikan bagi pemula karena lebih cepat berbuah dan cocok dengan kondisi iklim di Situbondo.
“Yang sudah banyak dibeli itu sekitar 44 jenis, kebanyakan oleh pemuda pemula. Karena potensi hasilnya cukup menjanjikan,” ujarnya.
Ia menilai masyarakat Situbondo cenderung menyukai tanaman yang cepat berbuah, sehingga varietas tersebut menjadi pilihan utama bagi para pemula.
“Karakter orang Situbondo itu ingin cepat melihat hasilnya. Jadi kami sarankan yang cepat berbuah,” paparnya.
Purwanto menjelaskan, beberapa varietas anggur bahkan dapat mulai berbuah dalam waktu sekitar dua bulan sejak masa pertumbuhan, sementara sebagian lainnya membutuhkan waktu hingga satu tahun.
Sementara itu, Gede, warga Desa Talkandang, mengaku baru mengetahui bahwa banyak jenis anggur impor yang ternyata dapat tumbuh dengan baik di pekarangan rumah.
Ia juga menepis anggapan mengenai mitos tanaman anggur yang selama ini berkembang di masyarakat.
“Saya membeli jenis anggur Portugis Dream, Gosv, dan Transmigrasi. Semua saya tanam di pekarangan depan rumah,” kata Gede.
Menurutnya, cara perawatan tanaman anggur juga cukup mudah karena ia diajari langsung oleh penjual bibit.
“Cara merawat dan pemberian pupuknya juga mudah. Kita bisa pakai fermentasi sampah dapur, bahkan resepnya juga diajarkan,” ungkapnya.
Gede mengaku tertarik menanam anggur karena banyaknya varietas impor yang tersedia serta potensi rasa buah yang berbeda-beda.
Ia berharap tanaman anggur yang ditanam di rumahnya dapat segera berbuah dan memberikan hasil yang memuaskan.
“Dari tiga jenis anggur yang saya beli, harga buahnya nanti juga berbeda-beda. Ada yang sekitar Rp90 ribu per kilogram sampai Rp250 ribu per kilogram,” pungkasnya.
Penulis: Khairul
What's Your Reaction?