Banjir Bengawan Jero Lamongan Rendam Bojoasri, Air Capai 80 Sentimeter Warga Terisolir
Desa Bojoasri, Kecamatan Kalitengah, Lamongan menjadi titik terparah banjir luapan Bengawan Jero. Ketinggian air mencapai 80 sentimeter, akses jalan terputus, warga terisolir, tambak gagal panen, dan bantuan logistik belum masuk.
KABAR RAKYAT,LAMONGAN- Kondisi banjir akibat luapan Sungai Bengawan Jero di Kabupaten Lamongan, Jawa Timur, kian memprihatinkan.
Dari 25 desa yang terdampak, Desa Bojoasri, Kecamatan Kalitengah, tercatat sebagai titik terparah dengan genangan yang belum surut hampir dua bulan.
Pantauan di lokasi menunjukkan akses jalan utama Desa Bojoasri kini tidak lagi terlihat karena tertutup air.
Ketinggian banjir mencapai 70 hingga 80 sentimeter sehingga kendaraan bermotor tak bisa melintas.
Sejumlah warga nekat menerjang genangan dengan sepeda motor, namun banyak yang akhirnya mogok atau mengalami kerusakan mesin.
Kondisi ini memaksa sebagian besar warga berjalan kaki menyusuri aliran banjir untuk menjalankan aktivitas sehari-hari.
Tak hanya melumpuhkan akses transportasi, air juga merangsek masuk ke permukiman. Puluhan rumah warga terendam dengan ketinggian air di dalam ruangan mencapai 30 hingga 40 sentimeter.
Sektor ekonomi warga pun lumpuh total. Ratusan hektare lahan tambak dipastikan gagal panen akibat luapan Bengawan Jero, menyebabkan kerugian materiil dalam jumlah besar bagi para petambak.
Di tengah kepungan banjir, pemandangan pilu terlihat dari anak-anak sekolah. Dengan seragam basah kuyup, para siswa tetap nekat berangkat demi menuntut ilmu.
Mereka harus bertaruh keselamatan melewati jalanan licin dan genangan air yang dalam setiap hari. Orang tua pun mengaku waswas, namun tak punya pilihan lain karena akses alternatif belum tersedia.
Warga Desa Bojoasri bernama Makin mengungkapkan kekecewaannya atas minimnya perhatian pemerintah.
Ia menyebut, hingga kini belum ada bantuan logistik yang masuk meski banjir sudah berlangsung hampir dua bulan.
“Kami sangat membutuhkan bantuan, terutama logistik. Selain itu, kami berharap ada peninggian akses jalan dan normalisasi sungai agar banjir tahunan ini tidak terus berulang,” ujar Makin.
Menurutnya, warga mulai kelelahan bertahan di tengah kondisi serba terbatas. Kebutuhan pangan, akses kesehatan, hingga pendidikan menjadi persoalan yang kian mendesak.
Kini, warga Bojoasri hanya bisa berharap Pemerintah Kabupaten Lamongan segera mengambil langkah konkret. Selain bantuan darurat, perbaikan infrastruktur jalan dinilai sangat mendesak agar aktivitas ekonomi dan pendidikan bisa kembali berjalan normal.
Penulis : Yoga
What's Your Reaction?